Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Peperangan antara Athena melawan Kronos sudah berlangsung
selama tiga hari. Kronos, yang dibantu Gaia, Minos, serta para Demigod dan
Hobgoblin. Mereka sudah mengepung tiga kuil utama milik Athena, diantaranya
Hephaestus, Poseidon, dan Zeus. Untuk membasmi mereka, kami para dua belas saint tangguh ditugaskan untuk mencegah
mereka di kuil utama.
Aku, bersama saint Capricorn,
Pisces, Aries, dan para prajurit ditugaskan untuk mencegah pasukan Kronos
memasuki kuil Poseidon. Perlawanan sengit kami berikan, hingga titik darah
penghabisan.
“Seraaaangggg!!”
Kronos dan Capricorn mengeraskan suara mereka, memberi
komando kepada prajuritnya, untuk saling menghabisi. Adu pedang pun terjadi
diantara para prajurit. Beribu panah dan tombak terlempar di udara, mencari
mangsa. Meski kami kalah jumlah, namun semangat kami demi Athena takkan
memudar.
“Pygmachía págou!” aku
pun mengepalkan tinju ke arah beberapa demigod yang mencoba mengepungku. Dari tinjuku,
keluarlah tenaga astral, yang kemudian membekukan mereka. Tak lama kemudian,
mereka pun hancur berkeping-keping. Dua demigod yang tersisa, kutendang mereka
tepat di kepala. Membuat mereka terkapar seketika. Setelah pertarungan pertama
usai, kulihat Pisces bertarung sengit dengan para Hobgoblin. Ia terlihat
kewalahan.
“Neró Thánatos!” tenaga astral yang ia keluarkan berubah
menjadi air bah, menghanyutkan semua Hobgoblin. Di saat yang bersamaan, tanpa
ia sadari seorang demigod mencoba menusuknya dengan belati. Aku segera berlari,
dan memukul sang demigod.
“Terima kasih telah menolongku, Aquarius. Tapi, engkau tahu
sendiri kalau belati biasa takkan bisa membunuhku. “ sindirnya.
“Tak usah sungkan, Pisces. Aku tahu engkau pasti
membutuhkanku. “ balasku, dengan nada sedikit mengejeknya.
Tak lama, beberapa prajurit Athena pun datang mengelilingi
kami, mencoba melindungi dari serangan musuh.
“Apa kau tak apa, tuan saint
Aquarius dan saint Pisces? Kami
mengkhawatirkan kalian.“ ujar Andromeda, salah satu ajudanku. Ajudan yang
menurutku luar biasa cantik, dengan wajah dan mata bulat, serta berkulit putih
mulus.
“Kami berdua tak
terluka sedikitpun, Andromeda.” Ujarku, sembari mengelus rambut dan mengusap
pipinya.
“Lebih baik kita menyusul Capricorn dan Aries. Mereka pasti
sudah berusaha ke tempat Kronos berada.” Balas Pisces, yang mengusik keberadaanku
dan Andromeda. Aku pun segera beranjak dari tempatku berdiri, lalu berlari
menuju tempat Capricorn dan Aries. Pisces, Andromeda, dan lainnya mengikutiku.
Kami terus berlari, menerobos pepohonan, menghindari ribuan
panah yang datang silih berganti. Para demigod dan hobgoblin yang mencoba
menghalangi, kami hancurkan.
“bála neró!” Pisces
mengeluarkan tenaga astral dari mulutnya, menghasilkan bola-bola air yang
mementalkan demigod.
“Ánemos kófti̱ Psychí̱!”
kukeluarkan tenaga astral, hingga berubah menjadi angin badai. Badai tersebut
sangat cepat, hingga beberapa tubuh hobgoblin terbelah menjadi banyak bagian
kecil.
Pada akhirnya, kami sampai di padang rumput yang luas. Hujan
tak menghalangi langkah. Kami seakan menangis tatkala melihat para prajurit
Athena banyak yang terluka dan tewas. Yang tersisa tinggallah Capricorn dan
Aries yang masih bisa berdiri tegak, melawan Kronos yang kini berubah menjadi
raksasa setinggi tiga meter. Terlihat olehku, beberapa prajurit yang terluka
parah seperti Perseus, Penelope, Orion, Jason, dan Hektor, yang dahulu juga
adalah teman seangkatan saat masih di akademi. Mereka berlima ditambah Januar,
yang kini berhadapan dengan Kronos, adalah sahabatku. Hanya aku dan Januar yang
terpilih menjadi dua belas saint
Athena. Aku mendapat gelar saint Aquarius,
sedangkan ia mendapatkan Capricorn.
“Januar, bagaimana kondisi saat ini?” tanyaku kepadanya. Guratan
lelah dan butir keringat terlihat dari wajahnya. Armor yang ia kenakan pun banyak terkoyak dan penyok sana-sini. Senasib
dengan Aries, yang kini terduduk lemas, ditemani oleh Andromeda dan Pisces.
“Buruk sekali. Ia terlalu kuat. Aku tak yakin kita berempat
bisa mengalahkannya, Februarius.”
“Tapi mengapa ia bisa menjadi raksasa?” aku pun masih
terheran-heran dengan kehebatan seorang Kronos, yang saat ini sedang
meraung-raung, mencoba merangsek maju menuju kuil. Pertanyaanku tak digubris
olehnya. Ia hanya bisa bergeming. Menatap matanya seolah ia telah mengalami
kekalahan pahit. Lautan putus asa dan ketakutan menghampiri dia.
“Januar, aku yakin kita bisa mengalahkannya. Athena pasti
akan membantu kita.” Aku mencoba memberinya semangat. Namun, semangatnya telah
hancur. Sama seperti para prajurit yang terluka itu.
“Pisces, sembuhkan Aries dengan tenaga pemulihanmu.
Andromeda dan para prajurit yang masih bisa berdiri, lindungi mereka yang
terluka dari para demigod dan Hobgoblin yang menyerang tiba-tiba.” Aku segera
mengambil alih komando pasukan. Mereka pun sigap, mematuhiku.
““Pygmachía págou!” kuarahkan tenaga astralku yang berupa
es, mencoba membekukan kaki kiri Kronos. Cara tersebut tak berhasil. Es terlalu
cepat mencair.
“Bagaimana bisa?” aku kaget ketika jurusku tak berhasil.
Kronos itu melihatku, lalu melancarkan jurusnya, berupa bola hitam, yang bisa
meledak saat tersentuh. Aku berhasil menghindarinya, membuat bola tersebut
menyentuh tanah. Tapi angin ledakan tersebut mengenai Januar, membuat ia
terpental.
“Sial! Mengapa Januar tak menghindar?” aku pun bergegas,
lalu menggendong Januar, yang terlihat lesu, dan memindahkannya ke tempat yang
cukup jauh dari jangkauan sang raksasa.
“Januar, ini seperti bukan dirimu yang sebenarnya.”
“Maafkan aku, Februarius. Tenaga astralku tersisa sedikit.” Aku
yang gemas melihat tingkahnya, segera menampar wajah Januar.
“Januar!! Kemana kepercayaan dirimu dan semangat pantang
menyerah yang sangat tangguh itu? Apa kau tak ingat saat engkau bisa
mengalahkan saint Leo, yang terpaksa
harus menelan ludahnya sendiri akibat kesombongannya sendiri, yang mengaku
terkuat diantara kita, para saint? Ataukah
saat kita bisa menaklukkan Hades dan para pengikutnya ketika mereka mencoba
menyerang kuil milik Apollo, saudara Athena? Dua kejadian itu sangat mirip
dengan saat ini, dimana tenaga astral yang kita miliki tinggal sedikit. Tapi,
semangatmu terus berkobar. Bahkan, para prajurit selalu membela dan
mengikutimu, seperti engkau seorang pemimpin mereka, melebihi Athena!”
“Februarius, maafkan aku karena selama ini membohongimu. Semangat
yang terus kuletupkan itu hanyalah sebagai penutup rasa takutku akan kematian.
Leo dan Hades sama seperti kita, para manusia yang bisa mati. Tapi Kronos? Ia hidup
abadi! Kuserang ia berkali-kali, ia malah semakin menjadi-jadi. Bahkan kini ia
berwujud raksasa! Bagaimana kita akan mengalahkannya?!” ocehannya hanya
menambahkan rasa maluku, tatkala aku terus mengagumi dia sebagai teman dan
sahabat. Sementara Kronos sendiri mengamuk. Tak peduli Demigod, Hobgoblin,
ataupun prajurit Athena, ia injak dan hancurkan. Terlihat Aries yang mulai
pulih, dibantu Pisces, mencoba menahannya, sembari menyelamatkan Andromeda dan
para prajurit yang tersisa.
“Dengarkan aku, Januar. Apa kau tahu Tombak Sanctuary?”
“Tombak Sanctuary? Bukankah itu hanya legenda?”
“Tidak. Athena memang memilikinya. Tombak itu pernah
digunakan untuk menaklukkan Titan, saudara Kronos. Aku telah diberitahu oleh
Athena bahwa tombak tersebut bisa membunuh Kronos, dengan menusuknya tepat di
jantungnya.”
“Tapi, tak mungkin Athena akan kesini dengan membawa tombak
tersebut, Februarius.”
Dengan astralku yang tersisa, kukeluarkan tombak tersebut. Tombak
yang indah dan besar, seukuran dengan tongkat Zeus dan Poseidon.
“Athena menitipkannya kepadaku, Januar.”
Tombak bermatakan berlian dan bergagangkan perak, yang telah
dialiri darah Titan dan doa oleh Athena. Januar terpukau dengan tombak
tersebut. Tombak itu pula yang membuat harapannya kembali. harapan untuk
menaklukkan Kronos.
“Aku akan menjadi pengalih perhatian. Februarius, kau fokus
ke jantung Kronos.”
“Yah, itu baru sahabatku.”
Kami berdua lalu melancarkan serangan. Januar berlari menuju
Kronos.
“chília bullet trén!”
tenaga astral milik Capricorn pun bergejolak, mengeluarkan ribuan bunga api
sebesar meteor. Api-api tersebut mengganggu Kronos, yang memakai lengannya
untuk menghalau serangan. Disaat yang bersamaan, kupijakkan langkahku ke lutut
kanan Kronos, lalu berpindah ke perutnya, sebelum aku berhasil berada di dada
sang raksasa. Saat Kronos membuka lengannya, ia terlambat menyadari bahwa aku
telah menancapkan tombak tersebut.
“Hooaarrrggggh!!!” raungan sang raksasa menyeruak ketika
mata tombak mulai menembus kulitnya. Sekuat tenaga kumasukkan ke dalam raga
Kronos. Hingga dapat menusuk tepat di jantungnya. Tatkala daging didalam telah
robek, mematahkan tulang rusuknya, dan menancap di jantung, serangan terakhir
sang raksasa ia lancarkan secara cepat. Dari mulutnya keluar sinar berwarna
merah kehitaman. Terlihat sinar tersebut sangat panas, melebihi cuaca di
sekitar gunung berapi saat meletus. Sinar tersebut mengarah ke Pisces dan
rombongan.
“Pisces!!! Aries!!! Cepat lari!!” teriakku. Tapi sinar itu
dapat mengejar langkah mereka.
“Tidaaaakkk!!!”
Disaat yang bersamaan, aku dan Kronos pun roboh. Sekejap mata
kulihat sinar kemerahan itu beradukan dengan nyala api yang membara kuat. Sinar
tersebut akhirnya lenyap, bersamaan dengan api tersebut.
“Api itu …. Jangan-jangan ….”
Dengan sisa tenaga yang kupunya, Aku segera bangkit untuk menghampiri
Pisces dan rombongan. Kulihat Pisces berusaha memulihkan pengendali api itu. Sedangkan
Aries, Andromeda, dan prajurit yang tersisa hanya bisa bersedih. Di saat itu
pula, kulihat Armor kuning keemasan
berbentuk layaknya wujud Capricorn yang sebenarnya, setengah kambing bertanduk
dengan berekor layaknya ikan.
“Januar, mengapa engkau mengorbankan nyawamu sendiri?” aku
merasa kecewa tak bisa menyelamatkan salah seorang sahabatku. Aku tak mau lagi
kehilangan teman dan sahabat.
“Februarius, tak usah kau bersedih. Ini memang kemauanku. Kau
berhasil sobat.” Kata-katanya seolah membuatku hancur. Air mata pun meleleh
dari pelupuk mata.
“Februarius, mungkin ini saatnya aku akan gugur sebagai
seorang pahlawan. Pisces, tolong hentikan pemulihanmu.”
“Tidak! Kamu harus kuat!”
Sayang, Pisces menghentikan pemulihannya. Ia hanya bisa
menggelengkan kepalanya, tak bisa menahan kesedihannya lagi.
“Februarius, ada satu pesan yang ingin kusampaikan kepadamu.”
“Sampaikanlah, Januar.”
“Aku akan menitipkan saudariku, Eirene, untuk menjadi
istrimu. Ia sangat mencintaimu, melebih cintanya kepada seorang kakak
sepertiku. Aku kakak yang payah.”
“Tidak, Januar. Kamu saint
terhebat yang dimiliki Athena.” Itulah kata-kata yang bisa kusampaikan
kepadanya, beberapa saat sebelum ajal menjemputnya. Ia pun tersenyum sembari
memejamkan mata untuk selamanya. Hujan pun berhenti, disertai kemunculan
pelangi yang mengiringi kematiannya.
Setelah Kronos dan pengikutnya dimusnahkan, Athena pun
mengadakan prosesi penghormatan dan pemakaman terhadap seluruh prajurit yang
tewas.
“Kunyatakan rasa dukaku terhadap salah seorang saint pemberani, Januar, yang
dianugerahi kekuatan Capricorn. Dan untuk memperingatinya, hari ini kutetapkan sebagai
hari Pelangi Januari.” Ujar Athena.
Legenda Pelangi Januari
Pertarungan di kastil Oxford
terus berlanjut. Pertempuran antara pasukan raja Iblis Satan melawan kekuatan
prajurit Cambridge, dimana aku yang memimpin, serta pasukan setengah malaikat
yang dipimpin Stella. Lautan darah terus membanjiri tanah yang kami pijaki,
dimana sang rembulan menyaksikan peperangan ini.
Pertempuran kini berlanjut
didalam kastil. Erangan para prajurit yang kehilangan nyawa terdengar di
berbagai penjuru. Mereka tertebas, luka menganga dan darah mengucur akibat
serangan Satan. Tapi aku tak seperti mereka, meski Satan langsung mencoba
menikamku dengan kecepatan serangannya. Aku selalu berhasil menangkis serangan
pedangnya.
“Benar-benar kekuatan
mengerikan” pikirku melihat aksi Satan menebas dan membunuh prajuritku.
Archiel, sang pengawal, dan Lucifer, Jendral pasukan Iblis pun juga sukses
menumpas seluruh pasukan Stella. Kini tinggallah Aku, Seraph (kakakku), Stella,
Sonia (adik Stella), dua pengawalku dan dua pengawal Stella yang harus
menghadapi kekuatan mengerikan Satan, Archiel, dan Lucifer.
“Hei kau manusia bedebah, berani
sekali kau memasuki kastilku yang megah dengan kaki busukmu !” Ujar Lucifer.
“Kekuatan manusia dan setengah
malaikat bergabung. Benar-benar menarik hingga hanya menyisakan kita bertiga.Kata
sang raja Iblis, Satan.
“Vicio, biarlah aku, adikku, dan
pengawalku yang akan menghadapi Satan dan pasukannya. Kau lebih baik tak usah
ikut dalam pertempuran ini.”
“Apa maksudmu, Stella? “
”Aku tak ingin kau terluka
ataupun tewas. Kekuatan mereka bertiga sangatlah kuat.”
“Aku rela mati, asalkan mereka
bisa kumatikan dengan tanganku sendiri.”
“Tapi aku tak rela kamu mati,
Vicio. Aku sangat mencintaimu.” Ujar
Stella. Lalu ia menggenggam tanganku, dan kemudian mencium bibirku.
“Sudah selesaikah kalian
berdebat, dan kemudian bermesraan? Aku bosan dengan kalian. Bos, Bagaimana
kalau kita serang duluan?” Tanya Archiel.
“Okelah kalau begitu.” Lalu
mereka bertiga melangkahkan serangannya dengan cepat.
“Kalian semua ! siapkan
kuda-kuda pertahanan kalian. Aku dan Stella akan menyerang Satan, Sonia dan
Seraph seranglah Lucifer. Sedang sisanya bunuhlah Archiel.” Lalu aku pun
bergerak maju duluan, menghadang Satan. Kedua pedang kami pun bertemu, pedang
perakku dengan pedang hitam-merah darah Satan, mengalunkan dentingannya. Kami
berdua saling menangkis serangannya. Saat aku lengah, Stella pun menutup celah
pertahananku yang kosong. Pedang Stella pun menghalangi Pedang Satan yang
hampir menembus dadaku.
“trims, Stella.”
“Janganlah kau terburu-buru
menyerang, Vicio.” Kemudian, kami berdua secara bergiliran menyerang Satan.
“Amuklah pedang Iblis : mare delle tenebre .” Ujar Satan
mengeluarkan jurus pedangnya
“Jurus Pedang : Spada della luce !” Dari pedang Stella
keluarlah cahaya terang. Kemilaunya menelan jurus Satan yang berisikan
kegelapan pekat.
“Arrgh ! Silau dan panas !” Ujar
Satan
“Sekarang waktunya Vicio !”
“Jurus pedang : Dio della morte di un migliaio di spade.”
Dari pedangku keluarlah seribu pedang lain, yang kemudian bergerak mengarah ke
Satan, dan menusuk tubuhnya.
“Uaarrrgh.” Satan pun roboh,
sekarat.
“Bos !”
“Satan !”
Archiel dan Lucifer pun
menghentikan pertempurannya. Mereka kemudian menggotong Satan, yang terkulai
lemas akibat jurusku.
“Ingatlah kalian manusia bedebah
dan setengah malaikat, kami kaum Iblis takkan pernah goyah untuk menguasai
dunia. Kelak kami akan menang !”
Lalu mereka menghilang dalam
sekejap, dengan jentikkan jari Archiel dan Lucifer.
“Kegelapan yang kau pegang
takkan bisa menguasai dunia selamanya. Hanya ada kebaikan yang bisa bertahan.”
Ujarku dalam hati sembari menggenggam tangan Stella.
FF - Kekalahan Raja Iblis
Kisah cintaku dengan Haruka
terhalangkan jalan yang berliku. Selalu saja ada pertentangan dari pihak dalam,
khususnya orang tuaku dan orang tuanya. Ya, mereka tak menyetujui hubungan kami
sejak awal, dikarenakan suku dan pekerjaanku. Haruka adalah keturunan berdarah
China-Jepang, sedangkan aku hanyalah kaum pribumi.
Kukembalikan semua kenangan saat awal
pertemuanku dulu. Aku bertemu dengannya saat aku masih menjalankan profesi
sebagai seorang pemain futsal professional di klub tenar, Jakarta FC. Sedangkan
ia sendiri masih menjadi seorang penyanyi di JKT48. Kami pun kemudian
mengakrabkan diri melalui jejaring social. Demi diriku, ia pun kemudian
meninggalkan karir di JKT48 dengan dalih ingin melanjutkan karir solonya. Kami
pun kemudian berpacaran setelah tiga bulan pendekatan.
Suatu hari, saat senja tiba, kami
berdua sedang berjalan-jalan di taman kota Fatahillah. Bercengkrama layaknya
muda-mudi kebanyakan.
“Haruka-chan, enak tidak Sashimi
tadi yang kubuat?”
“Hai.
Oishi desu. Bahkan orang tuaku tak
bisa memasak sepertimu” Ujar Haruka dengan logat jepangnya yang masih khas,
meski sudah lancar berbahasa Indonesia, memujiku. Kami berjalan-jalan sejenak.
Lalu, saatku menuju mobilku yang terparkir, kulihat dua orang bertubuh kekar merusak
mobilku. Sedang satu orang lainnya, dengan baju berjas dan membawa pedang
menyuruh kedua orang itu. Dan terlihat ada bapaknya Haruka di sisi orang itu.
“Hei kalian semua apa yang kau perbuat
dengan mobilku ?”
“Ayah ! mengapa kau merusak mobil Vicio-san?”
“Haruka ! aku dan ibumu sudah lama tak
merestui lelaki jalang ini ! Yang hanya hidup dari mengolah bola ! sudah
kubawakan jodohmu dari Jepang !”
“Tapi, ayah. Aku sangat mencintai
Vicio-san.”
“Aku tetap tak merestui hubunganmu
dengan Vicio !” Ayah Haruka pun membentak dan mencoba merebut paksa tangan
anaknya. Tapi Haruka menepisnya.
“anak durhaka kamu ! kuperkenalkan
orang itu. Dia adalah Jayushi. Seorang pengusaha kaya asal Jepang. Dia akan
kunikahkan denganmu.”
“Apa ?” Haruka dan aku pun terkaget mendengarnya.
“Watashi
wa Jayushi desu. Dozou Yoroshiku, Haruka-chan. Aku akan langsung melamarmu,
nona cantik” Ucap Jayushi
memperkenalkan dirinya dalam bahasa jepang. Wajahnya sangat buruk rupa, dengan
banyak keriput tampak jelas dari mukanya.
“Aku tak mau dengannya, Ayah. Aku
hanya mau dengan Vicio-san.”
“Kurang ajar kamu ! Hei dua orang
pengawal dan Jayushi, hajar bocah ingusan itu !”
Tanpa basa-basi, mereka bertiga
mengeroyokku. Pertarungan berlangsung tak seimbang, namun kumasih bisa memberi
luka pada pipi Jayushi dan beberapa bogem mentah kepada dua orang sisanya.
Namun mereka begitu kuat, berlangsung cepat hingga aku kehilangan banyak darah.
Aku pun roboh. Dengan sisa kesadaranku, kulihat Jayushi menghunuskan pedang
samurainya, mencoba menghabisiku. Namun, Haruka melindungiku yang terluka
parah. Sayang ia pun tertusuk perutnya.
“Haruka ! Anakku !”
“Aku tetap mencintai Vicio-san, ayah. Apapun kuperbuat demi
dirinya. Maafkan aku.”
Ayahnya benar-benar kehabisan kata dan
murka. Ia bersama Jayushi dan dua orang lainnya meninggalkanku dan Haruka,
begitu saja seperti sampah tiada guna.
“Haruka-chan, maafkanku. Aku tak bisa melindungimu.”
“Tidak apa Vicio-san. Kita akan mati bersama, dan hidup bahagia di surga sana.”
Setelah itu, Haruka pun menghembuskan
nafas terakhirnya. Disertai senyum terakhir yang tertinggal dari bibir
manisnya.
“Terima kasih, Haruka-chan telah mencintaiku tulus.”
Lalu aku pun roboh, tewas terkapar
bersimbah darah. Menyusul dirinya.
FF - Setia Hingga Akhir
Hari kesepuluh di bulan Februari, tahun kesekian. Hari ini, aku harus
memperingati ulang tahun Haruka, yang juga bersamaan dengan ulang tahunku di sini. Negeri nenek
moyangnya yang dicintainya, negeri yang jua telah membuatnya harus meregang nyawa. Ya, bencana alam yang telah merenggut dia dariku untuk selamanya.
**
Masih teringat saat aku dan Haruka berada di
Tokyo, Jepang. Saat menikmati Hanami berdua
dengannya di taman kota. Ya, seperti anak remaja Negeri Sakura lainnya.
Kuberikan kado ultah manis baginya berupa sebuah coklat dan boneka Teddy Bear kesukaannya.
“Arigatou
Gozaimasu, Vicio-san. Aku merasa terharu saat kamu berikan kado bagiku.”
“Ini belum seberapa, Haruka-san. Ini ada kado
lain lagi yang lebih indah.”
“Seperti apa kadonya, Vicio-san? Jangan buatku
penasaran.”
“Iya, akan kuberikan. Tapi kamu harus tutup
matamu dulu ya.”
“Baiklah. Akan kulakukan untukmu”
Lalu, setelah Haruka-san menutup matanya,
kuberikan dia sebuah cincin pertunangan yang dibungkus oleh kotak cincin
berbentuk hati.
“Vicio-san, kadomu indah sekali.” Ujar Haruka
setelah kusuruh dia membuka matanya
“Iya. Ini adalah cincin pertunangan kita,
Haruka. Sebentar lagi, kita akan menikah.”
Lalu kupasangkan cincin keperakkan yang dihiasi
berlian dan permata di jari manisnya.
"Tapi, aku tak bisa memberimu kado, vicio-san"
"Tak apa, Haruka-chan. Kado terindahku sudah cukup untuk memiliki hati dan cintamu."
"Ah, vicio-san. sungguh bahagia aku bisa memilikimu."
“Ya, Haruka. Aku bahagia karena ada kamu disisiku selalu. Aku benar-benar mencintaimu, Haruka.”
“Aku juga, Vicio-san. Cintaku tulus hanya
untukmu, sayang.”
“Baiklah Haruka, untuk merayakan pertunangan dan ulang tahun kita, bagaimana kalau kita makan sashimi dan Yakiniku di Okinawa?”
“Ah, baiklah.”
“Aku akan menjemputmu jam 7 malam.”
Lalu, malamnya, kami menikmati dinner berdua disalah satu restoran
jepang yang termahal di Okinawa. Aku sangat menyukai Yakiniku, hingga dengan
lahapnya kuhabiskan seluruhnya. Sedang dirinya menyukai Sashimi, makanan jepang
dimana disajikan ikan setengah matang dengan cuka dan kecap asin.
“Ah, sungguh romantis dirimu, Vicio. Mengajakku
kesini. Inikan restoran mahal”
“Tak apalah, Haruka. Ini juga demi merayakan
kebahagiaan kita.”
Tapi, tiba-tiba, gempa berkekuatan besar
menggoncang Okinawa. Aku dan dia merasa ketakutan. Begitu pula semua orang disana. Panik dan khawatir melanda .
“Vicio-san, aku takut. Gempanya besar sekali.”
“kita pasti selamat, Haruka.” Kuyakinkan hatiku agar bisa selalu bersamanya. Lalu ku
menggenggam erat tangannya, menyelamatkannya dari plafon bangunan yang mendadak hampir
mengenai kami. Setelahnya, kuberlari bersamanya menuju luar restoran. Tapi yang
terjadi sungguh mengejutkan. Tiba-tiba muncullah gelombang tsunami yang besar.
Menghanyutkan seluruh bangunan, semua orang, beserta diriku dan Haruka.
“Vicio-saaaan !! Tooolooong !”
“Haruka-san ! aku akan menyelamatkanmu !”
Genggaman tanganku terlepas darinya, ia
terhanyut cukup jauh. Aku mencoba mengejarnya dengan berenang sekuat tenaga.
Namun, gelombang itu sungguh dahsyat menerjang. Aku tak kuat lagi, dadaku penuh
sesak oleh air tsunami yang menerjang. Setelah itu, pelan-pelan kumulai merasa gelap. Hanya terlihat sekilas senyum Haruka, yang kini tak tahu dimana rimbanya. Lalu aku kehiilangan kesadaran.
**
Saat kusadarkan diri, aku benar-benar kehilangan Haruka. Masih dengan
baju yang sudah rusak, kucoba meneriakkan namanya, namun tak jua muncul
raganya.
“Mengapa kuharus kehilangan dirinya, Tuhan ? aku sangat mencintai
dirinya. Disaat tinggal setapak lagi aku dan dia menuju mahligai pernikahan,
kau malah mencabut nyawanya ! apa sesungguhnya yang Kau mau ??? apa Kau mau
membuatku terus menderita????”
Aku benar-benar lelah mencarinya. Sudah berputus asa. Kini aku hanya
bisa duduk terdiam dan meneteskan air mata disini. Aku harus merelakan kepergiannya menuju surga.
FF - Malam Terakhir di Okinawa
Malam hari, aku dan Nabilah, kekasihku yang berbeda tiga
tahun denganku, sedang dikejar oleh sekelompok perampok. Mereka mengincar
permata Zyon, permata hitam yang dimiliki Nabilah. Mereka berjumlah limapuluh
orang.
“Bulan purnama? Apakah ini berarti aku bisa menggunakan
mantera kegelapan dan permata itu untuk melawan mereka?” Tanyaku dalam hati.
Kuhiraukan sesaat pemandangan itu, sembari tetap menggengggam tangannya. Terus
berlari, mencoba untuk tak tertangkap oleh mereka. Hingga pada akhirnya, aku
dan Nabilah terpojokkan oleh tepi jurang.
“Vicio, aku takut. Aku tidak mau kita berdua mati” Nabilah
pun ketakutan, mendekapku dengan erat.
“Hei kalian berdua ! serahkan permata Zyon yang kalian
miliki ! Kalau tidak akan kumusnahkan kalian !” Ujar sang ketua perampok itu.
“Jika aku memberi kalian permata itu, apakah kami akan
dibebaskan ?”
“Tentunya tidak. Kamu akan akan kami musnahkan, sedang
perempuan itu akan kami jadikan budak pelampiasan nafsu kami ! Hahaha” kata
sang ketua itu, yang juga dibalaskan oleh gelak tawa serakah mereka semua.
Sedangkan wajah Nabilah semakin pucat pasi, bersembunyi di balik punggungku
sembari menahan tangis. Mereka berwajah buaya, dengan gigi taring panjangnya,
dan bertubuh kuda. Mendengar perkataan mereka membuatku tersulut emosi, kuhunuskan
pedang perakku. Namun segera dicegat oleh Nabilah.
“Vicio, kutitipkan permata ini untukmu. Zyon ini memiliki
kekuatan monster yang bersemayam. Gunakanlah mantera kegelapan untuk melawan
mereka.”
Ia pun memberinya permata itu kepadaku.
“mantera sihir kegelapan, cambiare mostro !”
Mantera sihir itu pun bekerja dengan permata itu,
mengeluarkan cahaya kegelapan pekat. Bulan pun ditelan sesaat olehnya. Mereka
semua terkejut oleh suasana mencekam ini. Setelah cahaya hitam itu sirna,
semuanya melihat sosokku. Ya, sosokku kini berubah. Menjadi seekor monster
serigala, dengan sayap hitam pekat dan baju perang berwarna abu-abu. Pedang
yang kugenggam pun berubah warna menjadi merah darah. Dengan kesadaranku yang
tersisa, kulihat wajah Nabilah yang tersenyum manis, mencoba mengusir rasa
takutnya terhadapku.
“Jangan takut, wahai pengikutku. Bunuhlah monster itu demi
aku, Sawar, sang raja perampok”
Namun, semua pengikutnya hanya terdiam dan tercengang,
bingung dan takut melihatku.
“Auuuuuuuuu” Aku pun hanya bisa bersuara bagaikan serigala
yang kesepian. Mendengar auman serigala itu, mereka semua lari terbirit-birit.
Lalu, dengan sayapku, kukejar mereka semua dan kutebas semua. Kurobekkan daging
mereka dengan ganas. Mereka pun tewas seketika, bersimbah darah.
“Kurang ajar kau, monster serigala ! mantera sihir : coccodrillo di acqua !”
Ia pun mengubah dirinya menjadi monster buaya. Lalu
menyerangku dengan trengginas, dengan pedang salib kehijauan yang ia pegang.
Aku pun tak mau kalah. Saling tebas pun terjadi.
“Vicio, semoga kamu bisa mengalahkannya.” Ujar Nabilah dalam
hatinya, menyaksikan pertarungan yang menyeramkan dan mencekam.
“Uwoooooo.” Suara dua monster yang bersemangat bertarung
menambah suasana menakutkan disekitarnya
Hingga pada akhirnya, aku pun berhasil menusukkan pedangku
ke jantungnya, sedang ia hanya dapat merobek kulit tanganku.
“Uarrrghh” Ia pun roboh dan tewas seketika.
Setelah pertarungan itu, aku pun kembali ke wujud semula,
terkulai lemas. Darah mengucur deras dari lenganku.
“Vicio ! ” Nabilah pun mengejarku dan segera membopongku
yang tak berdaya, terkuras habis tenaga.
“Nabilah, kita menuju desa terdekat untuk beristirahat.”
Lalu, kami pun melanjutkan perjalanan, mencari tempat
istirahat dan untuk mengobati lukaku.
FF - Zyon
Penyergapan itu telah sukses dilakukan. Pasukan zombie itu berhasil dimusnahkan. Pasukanku bersama sisa pasukan Tian Jin menuju istanaku. “Beristirahatlah kalian prajurit Tian Jin di balai prajurit.. Sedang para panglima akan kami istirahatkan di kamar tamu kerajaan.” Komando Fujiwara yang segera dipatuhi oleh seluruh prajurit Tian Jin. Kulihat raut lelah dari para prajurit Tian Jin yang juga mengalami penurunan mental berperangnya. “Takeshi,kau bersama tenaga medis obati para prajurit dan panglima Hagure yang terluka.” Perintahku kepada Takeshi,yag segera ia patuhi. Ia bergegas memanggil tenaga medis lain,lalu membawa tandu dan perlengkapan medis yang dibutuhkan. Mereka dengan langkah cepat dan tepat mengobati,dan mengoperasi mereka dan panglima Hagure,yang terlihat mengalami luka dalam yang cukup parah.
“Mengapa Ayahmu mengirimmu untuk memimpin penyergapan,putri Sonia? Bukannya kamu belum berpengalaman dalam peeperangan?” Tanyaku kepada Sonia memulai pembicaraan. “Yah,ayahku justru menginginkan aku memimpin perang ini. Selain karena untuk menambah pengalaman,ia juga percaya kalau aku bisa menyelesaikan penyergapan. Sayang,malam ini misiku gagal.” Ujar Sonia. “Tak apa,tuan Putri. Kegagalan merupakan awal kesuksesan. Kau bisa belajar dari pengalaman ini.” Ucapku mencoba menyemangati Tuan Putri. “Beristirahatlah,agar kau besok bisa pulang ke istanamu.” Lanjutku kemudian.
Setelah semua telah pergi ke tempat istirahatnya,aku pun segera menuju ke peraduanku,dimana Cindy dan Haruka telah menungguku. “Haruka,gimana kabar Nabilah dan Ayana?” Tanyaku kepada Haruka yang sedang mengenakan piyama tidurnya berwarna pink. Sedang Cindy mengenakan piyama berwarna biru tua. “Mereka baik-baik saja. Kini Ayana sudah bisa menjadi tenaga medis kerajaan. Sedang Nabilah kini sudah mulai berlatih kendo bersama beberapa pengawal.” Ujar Haruka. Perubahan tubuh Haruka hanyalah pada perutnya yang semakin membesar,mengandung anak hubunganku dengannya. Cindy hanya terdiam saja melihatku berbicara dengan Haruka.”Mengapa kamu hanya terdiam saja,sayangku,Cindy? Kamu terlihat murung” “Aku tidak apa-apa,Rizuki. Hanya saja aku berusaha menahan rasa cemburuku. Kulihat kamu sangat mesra dan akrab dengan istri mudamu,Haruka.” Ujar Cindy yang terlihat kesal karena kudiamkan. “Maafkan aku,Cindy.” Lalu aku membelai rambut dan pipinya. “Aku tetap sayang kamu dan Haruka. Kedua istriku kuperlakukan sama.” Kucium kening dan pipi Cindy dan Haruka. “Ku ingin beristirahat. Selamat tidur kedua istri cantikku.” Lanjutku yang lalu mulai terbaring dan memejamkan mata,disusul Cindy dan Haruka.
Keesokan paginya,basis pertahanan musuh mengalami kepanikan luar biasa. Hal ini terjadi karena ada satu laporan pengamatan dari salah satu pengawas loji bahwa ia melihat asap dan cahaya terang yang sempat bermunculan,serta bunyi dentuman dari arah desa Trem. “Apa benar yang kau lihat??” Tanya Drakonice seakan tak percaya oleh salah satu penjaga yang memberi laporannya. “Memang benar saya melihat asap dan cahaya terang yang sempat bermunculan tadi malam. Serta saya sempat mendengar bunyi dentuman. Semuanya berasal dari arah desa Trem dan sekitarnya tuan Paduka.” “Jika kamu memberi laporan tak benar,akan saya potong leher dirimu tanpa ampun.” Erlang memberi ancaman kepada penjaga itu. Penjaga itu merasa ketakutan mendengar ancaman dari Erlang. Pucat pasi wajah sang penjaga itu. Ia merasa bersalah telah melaporkan kejadian ini.“Sayangku, Erlang, daripada kamu mengancam tak jelas,lebih baik biar aku dan Jeje yang memastikan keberadaan pasukan zombie di desa Trem. Apakah mereka masih hidup atau sudah musnah.” Ujar Melody “Jika benar pasukan zombie itu musnah,maka tak perlu kau memberi hukuman kepada prajurit penjaga ini. Jika omongannya ia tak benar,kau boleh memutuskan kepalanya.” Lanjut Melody yang membuat Erlang mengangguk kepalanya tanda setuju kepada keputusan Melody. “Hei kau penjaga,kau ikut kawal Melody dan Jeje !” Ujar Erlang kepada sang penjaga pemberi laporan. Sang penjaga itu langsung menaati perintah Erlang,bersimpuh,lalu segera menyusul Melody dan Jeje yang telah berada di depan pintu benteng.
Sementara itu,di istana Tian Jin,Raja dan Ratu pun juga panic. Mereka belum melihat pasukan Tian Jin kembali menuju istana kerajaan. “Apa mungkin mereka tewas semua baginda?” Tanya sang Menteri. Pertanyaan sang menteri ini sontak membuat kaget raja dan ratu. “Tak perlu kau bikin kami was-was. Putriku,Sonia dan para panglima lain sangatlah kuat. Para panglimaku telah berpengalaman dalam urusan perang. Tak mungkin mereka mati sia-sia.” Sang raja pun marah kepada sang menteri. “Tapi pasukan zombie mereka tak kita ketahui jumlahnya. Bisa saja mereka menang jumlah pasukannya,lalu pasukan kita terkepung dan ….” Sang ratu pun memotong pembicaraan Raja dengan menteri. “Sudahlah,kalian berdua tak usah bertengkar dan adu debat. Kita berdoa saja semoga putri kita dan pasukan selamat.” Omongan dari ratu Stella membuat raja dan menteri pun terdiam. Mereka merasa kata-kata Ratu Stella ada benarnya. Sang Ratu masih optimis kepada pasukannya yang suaminya kirim masih ada yang terselamatkan. “Sangat menyesal diriku mengirim putriku sendiri menuju misi penyergapan yang mustahil untuk dimenangkan.” Sang Raja merasa bersalah atas pengiriman putri sulungnya,yang kelak menjadi penerus takhtanya. “Tak apalah suamiku,Rolver. Kita masih mempunyai putra kecil kita,Raphael Jin yang bisa menjadi penerusmu.” Ujar Stella mencoba menenangkan hati suaminya. Ketegangan dalam istana antara Raja dan Menteri sedikit mereda,meski mereka juga masih was-was terhadap keselamatan Putri Sonia.
Sementara itu di istanaku,di Kota Rizuki,para prajurit dan panglima perang Tian Jin bersiap untuk pulang. Mereka akan dikawal pasukan khususku yang berjumlah 10 orang,yang dipimpin Fujiwara “Sonia,khusus anda,anda akan dikawal oleh Bima,Nathania, dan Cheristiawan. Engkau akan melalui teleport yang akan dibukakan oleh Nadzar, agar perjalananmu cepat sampai. Aku tak ingin kedua orang tuamu semakin khawatir atas kehilangan putri sulungnya dalam penyergapan. Baru setelah itu pasukan anda yang akan dibukakan teleport oleh Takeshi.” Ujarku kepada Putri Sonia. “Atas nama kerajaan Tian Jin, saya dan pasukan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Ini ada hadiah kecil untuk anda Tuan Rizuki.” Lalu ia memberi sebuah bingkisan berbentuk kotak. “Sebagai lambang persahabatan antara kota Rizuki dan kerajaan Tian Jin. Semoga hubungan kerajaan semakin harmonis dan langgeng.” Lanjutnya. Ku tertegun dengan bingkisan yang ia beri. Setelah itu,ia pun bergegas bersama Bima,Nathania,dan Cheristiawan. Setelah kepergiannya dengan menggunakan teleport,diriku segera membuka bingkisan yang telah diberinya. “Kau diberi Sebuah patung emas oleh Rolver?” ujar Cindy yang datang tiba-tiba dari belakang dan menyahutku. Meski diriku terkesan dengan bingkisan ini,namun ku sempat terkaget karena kehadiran Cindy. “Ya,Cindy . Bukan Rolver,tapi putrinya.” Ujarku pelan,mencoba menenangkan diri. “Yah,dia memang cantik,lembut,namun tegas,mirip ibunya.” Lanjut Cindy sedikit mengalihkan pembicaraan. “Hmmm tapi patung emas ini sedikit mengingatkanku pada seseorang.” Aku cukup terheran dengan patung yang sebenarnya lebih mirip miniatur seseorang “Sini,biar aku lihat.” Cindy pun segera merebut patung emas itu,dan cukuplah terkaget dirinya,lalu ia menangis terharu melihat patung itu. “Rasa kangenku terhadap ayah semakin bertambah. Ayah,kapan kamu bisa hidup lagi?? Aku ingin ayah bisa ada disampingku” Ia tak bisa menahan air mata kerinduannya tatkala patung emas itu adalah sosok ayahnya,yang dia banggakan tatkala ayahnya masih menjadi raja di kerajaan Cheng. Aku pun merasa berduka atas kehilangan sosok ayahnya. Aku hanya bisa memeluknya dari belakang,dan mengelus rambutnya. “Cindy,ayahmu tak bisa dihidupkan lagi. Yang bisa kita hidupkan adalah semangatnya agar rakyat bisa makmur,tentram,dan sejahtera. Aku akan berusaha untuk menjaga warisan semangatnya melalui kota ini. Kelak setelah perang ini,aku akan memimpin layaknya ayahmu.”
Sementara itu,di desa Trem,Sang Penjaga, Melody dan Jeje hanya bisa melongok keheranan,bahwa markas para zombie itu kosong melompong. Tak ada jejak dari pasukan zombie,hanya ada pasir dan debu. “Siapakah gerangan yang dapat memusnahkan pasukan Zombie yang dikata terkuat dan sulit dikalahkan??” Melody hanya dapat bertanya keheranan dalam hatinya sembari mencari sosok Oracle,sang pemimpin pasukan Zombie. Tertegun dirinya. “Melody,aku tak menemukan Oracle sama sekali disini. Apakah dia pindah markas?” Tanya Jeje yang segera membuyarkan lamunan Melody. “Ah,tak mungkin Oracle memindahkan markasnya. Akan kucari sebentar. Jurus Pelacak !” Jurusnya ia aktifkan . Jurus yang dapat mencari,melacak dan menemukan seseorang dari tenaga dalam yang terpancar.
Namun,lagi-lagi ia tak menemukan Oracle sama sekali. “Jurus Pelacak !” Ia mengulang lagi jurusnya,kali ini dengan intensitas jarak pencarian mencapai 5 km. Namun,ia tetap tak menemukan. “Bagaimana Melody? Sudah kau temukan Oracle?” Tanya Jeje. “Maafkan aku Jeje,sepertinya Oracle telah mati.” “Tak mungkin lah Melody. Dia seorang zombie kuat,bahkan bisa tahan terhadap cahaya dan sinar matahari,dan pernah membunuh banyak prajurit di medan perang.” Jeje merasa kaget dan tak percaya oleh Melody. “Jika memang begitu,besar kemungkinan Oracle telah dikalahkan oleh orang yang lebih kuat darinya,dan disegel rohnya sehingga ia tak hidup lagi.” Kata-kata Melody memperjelas keberadaan Oracle yang besar kemungkinan telah dikalahkan.”Sudahlah kalau kita takkan menemukannya. Berarti Oracle telah dikalahkan dalam suatu pertempuran disini. Selamat kau penjaga. Kau bisa sedikit bernafas lega telah lolos dari ancaman bos Erlang.” Kata Melody yang membuat sang penjaga itu bisa menenangkan dirinya. Lalu mereka bertiga kembali menuju basis pertahanan di desa North. Mereka pulang tanpa membawa hasil. “Siapakah gerangan yang dapat mengalahkan dan menyegel Oracle? Apakah Rizuki dan pengawalnya,yang sempat buatku kewalahan?” Pertanyaan itu terus memenuhi benak Melody selama perjalanan pulang.
Dengan jurus Teleport,Putri Sonia,yang dikawal oleh Bima,Cheristiawan dan Nathania,tiba dengan hanya waktu tempuh setengah hari. Saat mereka tiba,hari telah beranjak malam. Para prajurit yang sedang menjaga istana Tian Jin atau sekedar bersantai ria pun langsung segera bersimpuh sejenak menghormati kehadiran Putri Sonia. “Permisi,Putri Sonia akan saya antar menuju istana kerajaan. Kalian para,tamu bisa menunggu sejenak disini.” Cegat salah seorang prajurit yang sedang menjaga pintu istana. “Maaf,prajurit. Biarkan mereka ada disini untuk menemaniku. Jika kau membantah, akan kuadukan kepada ayahku,lalu kau kelak akan dipenjara di penjara bawah tanah.” Ucap Sonia tegas sehingga sang prajurit jaga pun merasa enggan untuk menahan para tamu itu.
Sonia pun segera bergegas menuju istana,dan ditemuinya ayah dan ibunya. “Ayaaahh !!” Sonia pun berteriak histeris,lalu memeluk ayahnya. “Anakku,Sonia. Ayah sangat mengkhawatirkanmu. Mengapa kamu tak pulang setelah penyergapan?” “Ayah, pasukanku diselamatkan oleh mereka, para prajurit gagah berani dari kota bernama Rizuki.” Tanpa disuruh Bima, Nathania dan Cheristiawan segera bersimpuh “Hampir saja kami kalah. Namun berkat mereka dan pemimpinnya bernama Rizuki,kami bisa memenangkan pertarungan.” Ucap Sonia melanjutkan kata-katanya. “Permisi Paduka Raja, Kami dari pasukan kota Rizuki,telah berhasil menyelamatkan tuan Putri,para panglima, dan seratus prajurit anda yang tersisa akibat terkepung oleh musuh. Mereka yang tersisa berada dalam perjalanan dan sebentar lagi akan sampai dengan kawalan pasukan khusus kami. Yang terluka juga telah kami obati .” Ucap Cheristiawan. “Terima kasih kalian wahai para pahlawan dari kota Rizuki. Sampaikan salamku kepada pemimpin kalian,Rizuki.” Ucap Raja Tian Jin.
”Beristirahatlah kalian tamu dari kota Rizuki. Hari telah larut malam. Beristirahatlah di kamar tamu kerajaan.” Ucap Ratu Stella. “Terima kasih paduka Raja dan Ratu atas kebaikannya. Kami akan beristirahat sejenak disini.” Balas Cheristiawan. Setelah Putri Sonia sampai,seratus prajurit Tian Jin dan panglimanya yang dikawal pasukan khususku yang berjumlah sepuluh telah sampai.. Bima,Cheristiawan,Nathania,dan 10 prajurit khususku yang dipimpin Fujiwara pun dijamu dengan hidangan mewah ala kerajaan oleh Raja,dan beristirahat sejenak menyambut mentari pagi.
Sementara malam di basis pertahanan musuh,serasa seperti malam berkabung. Ya ini merupakan malam dimana para pemimpin pasukan musuh tak menyangka pasukan zombie mereka ditaklukkan dan dimusnahkan dengan sebegitu mudahnya. “Begitulah,sayangku Erlang. Hanya itu yang bisa kusampaikan. Memang benar aku telah melacak keberadaan Oracle,dan tak ditemukan tanda-tanda keberadaannya.” Ucap Melody. “Sial, siapa yang bisa menghancurkan pasukan zombie kita sebegitu mudahnya?? ” Mars pun merasa tercengang dan kaget setengah mati mendengar kabar dari Melody. “Hmmm sampaikan permohonan maafku kepada sang penjaga. Akan kulepaskan ancamanku dari batinnya,Melody.” Ucap Erlang. “Baiklah sayangku,telah kuucapkan permohonan maafmu tadi,Erlang.” “Terima kasih kalau begitu.” Lalu ia mengecup kening Melody. “Lalu siapakah gerangan yang bisa mengalahkan Oracle? Dia bukannya sangat kuat?” Tanya Drackonice kepada Erlang. “Siapakah lagi kalau bukan Rizuki dan pasukannya ! Mereka seperti lalat pengganggu dalam misi kita. Mereka harus dimusnahkan layaknya mereka memusnahkan pasukan zombie kita !” Ujar Mars. Namun, Erlang tak menerima kenyataannya. Dia pun menunjukkan amarahnya dan emosi. “Aku tak akan segan untuk memenggal kepala Rizuki kali ini ! Awas kau Rizuki !” Dengan emosi,Erlang pun memukul meja disampingnya. Lalu setelah itu ia melepas pedang dari sarung pedang,dan dengan cepat dan penuh tenaga menebas meja itu hingga terbelah menjadi beberapa bagian. “Kelak akan kubelah tubuh dirinya seperti meja yang kutebas ini ! Huahahahahah” Erlang pun tertawa puas,dengan mimic muka layaknya seorang yang kejam dan psikopat. “Lalu setelah itu,tak ada yang dapat mengganjal atau menghalangi aku dan kalian menjadi penguasa dunia !”
===========================Bersambungkepart14==========================
Rizuki,Pendekar Pedang part 13
Seluruh seisi istana di kota Rizuki pun berbahagia. “Rizuki !!
Kamu udah seminggu tak sadarkan diri. Kukira kamu telah ….” Ucap Cindy yang
lalu memelukku setelah aku keluar dari peraduanku bersama Nabilah dan Haruka.
Kulihat muka Haruka sedikit cemberut,menahan rasa cemburu. “Tidak. Aku takkan
meninggalkan kalian semua untuk selamanya. “ Ucapku pendek,lalu kulepas pelukan
Cindy. “Tuan Rizuki,kini anda dapat memerintah kembali. Banyak kabar berhembus
selama Anda tak sadarkan diri.” Ucap Bima yang kemudian bersimpuh di
hadapku,sembari memberikan mahkota yang sempat tak pernah kupakai selama ku
mati suri. “Kabar seperti apakah yang berhembus selama ku tak sadarkan diri?”
Tanyaku kepadanya. “Yang hamba tahu kini pasukan musuh sudah membangun benteng
di desa North. Tapi ada juga yang menyebutkan di desa Trem ada benteng musuh.
Namun disana sangat hening. Hanya berupa Gundukan setengah bola berjumlah delapan.
“ Ucap Fujiwara. “Hmm baiklah. Kita akan melakukan penyergapan. Aku,Bima,Fujiwara,Clyamore
dan 500 prajuritku akan menghancurkan markas di desa Trem. 20 prajurit itu akan
dipimpin salah satu anak buahku, Cheristiawan. Kita akan menyerang dimalam
hari,Karena prediksiku mengatakan disana adalah markas pasukan zombie. Kita
akan menyegel mereka.” Komandoku. “Baik paduka !” Lalu Bima,Fujiwara,dan
Claymore segera bergegas memanggil Cheristiawan dan prajurit lainnya. “Hati-hati
Rizuki. Kamu baru sembuh.” Ucap Haruka yang lalu segera memelukku dari
belakang. “Aku tak mau kehilanganmu lagi.” Lanjutnya “Terima kasih telah
mencemaskanku selama ini,tapi kuharus melakukan ini semua. Doakan saja aku agar
kuselamat untuk menuntaskan misi ini.” Balasku,yang lalu kukecup kening Haruka.
Sementara itu di Istana kerajaan Tian Jin,Rolver pun bingung
dalam upayanya menyergap pasukan zombie itu. Lalu dengan bergegas ia melihat 5
panglima perangnya,seperti Hadi Raishu,Hagure Yuusha,Janabi Hatachi,Erischa
Miku,dan Hatsune Koji. Ia juga mengajak putri sulungnya,Sonia Natalia,untuk
dilatih salah satu jurus penyegel. “Kalian akan kuajarkan jurus Segel Kematian
Abadi,jurus segel roh-roh yang tak bersahabat.” Ucap Rolver. “Namun seperti apa
musuh yang kita hadapi nanti?” Tanya Hadi. “Musuh kalian selain manusia adalah
pasukan zombie,dan malam ini kalian bersama 250 prajurit akan menyergap dan
memusnahkan pasukan zombie yang ada di desa Trem. Kalian harus bisa menguasai
jurus ini.”
Suasana istana pun menjadi ricuh. “Apa yakin jurus ini akan
berhasil ayah? Aku tak mau prajurit kita akan mati kepayahan. Kita butuh
prajurit itu untuk perang besar nanti” balas Sonia. “Tenang,jika kalian
menguasai jurus ini,prajurit kalian takkan mati sia-sia.” Lalu Rolver
memulainya dengan kuda-kuda. “Aku akan mengajarkan
kuda-kudanya. Kuda-kudanya mirip jurus kendo dasar,lalu kemudian kau lemparkan
pedangmu,dan tangkaplah dari langit. Terakhir kerahkan tenaga dalammu.”
Rolver lalu membangun kuda-kudanya,melempar pedang,meloncat dan menangkap
pedangnya. Ia pun lalu mengerahkan tenaga dalam dan mengalirkan ke pedangnya
menuju arah keluar istana. Dan dahsyatlah efek yang ditimbulkan. Beberapa pohon
besar yang menua tumbang,dan bahkan arah tebasannya dapat merusak sebuah gedung
tua di lingkungan istana.
“Arahkan
tebasan pedang nanti ke zombie-zombie itu. Untuk latihannya,kalian harus bisa
menghancurkan gedung tua itu dengan jurus itu.” “Baik Paduka Rolver.” Para
panglima itu menjawab perintahnya dengan semangat. “Ah,aku lupa satu lagi,nanti
yang akan memimpin pasukan penyergap adalah Sonia.” “Tapi ayah,aku kan belum
berpengalaman perang.” “Memang,tapi kamu akan dibantu 5 panglima perang
lainnya. Jadi kau pasti bisa.” “Terima kasih ayah.” Balas Sonia. Lalu Sonia dan
5 rekan panglimanya berjuang keras untuk menguasai jurus itu. Berulang kali
mereka mencoba,namun selalu gagal. Hingga pada tengah hari,”Segel Kematian
Abadi !” Sonia pun mengeluarkan jurus itu,dan arah tebasannya langsung dapat
merusak atap gedung tua itu “Wow hebat putri tuan Rolver.” Ucap para panglima
itu “Ayo kita ulangi jurus itu,dan menghancurkan gedung tua itu.” Sonia pun
menyemangati para panglima itu. Mereka pun bersemangat,berpacu dengan waktu
untuk menyelesaikan jurus itu. Waktu dan lelah tak mereka kenal. Mereka terus
berjuang, hingga akhirnya saat sang matahari bergeser menuju sore,mereka
berhasil merubuhkan gedung itu. “Benar-benar mereka sangat hebat,Tian jin bisa
menjadi kuat di tangan mereka khususnya di tangan putri penerusku,Sonia.” Ucap
Rolver dalam hati menyaksikan melihat gedung tua itu runtuh berkat kerja keras
mereka menguasai jurus itu. “Baiklah kalian semua,beristirahatlah. Aku dan
menteri telah menyiapkan ke 250 prajurit di balai tentara. Tengah malam nanti
kalian akan berangkat, melakukan penyergapan.”
Tengah
malam,di sisi barat desa Trem,250 prajurit kerajaan Tian Jin bersembunyi di
balik semak-semak belukar yang tumbuh lebat,mencoba memata-matai desa yang kini
menjadi markas pasukan zombie. “Hening,kayak gak ada orang.” Ucap salah seorang
prajurit kepada seorang prajurit lainnya. “Ya iyalah mereka takkan
keluar,mereka kan didalam tanah.” Balas seorang prajurit lainnya. “Tidak.
mereka akan keluar saat malam hari. Biasanya untuk berburu daging.” Ucap Sonia
yang mencoba mencibir kedua prajurit itu. “Jangan berisik. Kita bisa ketahuan.”
Ucap Hagure. Sementara di sisi timur desa Trem,pasukanku bersembunyi di balik
pepohonan besar yang menutupi keberadaan kami. Gelap dan sunyi. “Kalian jangan
melakukan pergerakan apapun tanpa aba-abaku.” Komandoku pun segera dipatuhi
oleh yang lain,tak terkecuali Cheristiawan dan 3 pengawalku.
Lalu
muncullah satu persatu zombie dari 8 gundukan setengah bola,terus
bermunculan,hingga separuhnya keluar dari persembunyian. “Ini saatnya kita
serang mereka !!” Komando Hadi pun membuat prajuritnya bersemangat. “Segel
Kematian abadi !” Hadi dan Hagure pun langsung mengeluarkan jurus segel yang
membuat dua ratus prajurit zombie musnah seperti butiran debu. Lalu disusul
jurus yang sama oleh Janabi,Miku,dan Koji yang dapat memusnahkan 300 prajurit
zombie. Sedang Sonia pun memusnahkan 250 prajurit lainnya.
“Siapa
itu yang menyerang tiba-tiba? Kan belum ada aba-aba,tapi ada pasukan dari barat
yang menyerang.” Ucap Nadzar. “Aku tak memberi aba-aba. Siapa diantara kalian
yang memberi komando pasukan barat?” Tanya Bima. Namun semua orang disitu hanya
menggelengkan kepalanya. “Jika dilihat dari pakaiannya,besar kemungkinan itu
adalah pasukan Tian Jin.” Ujar Takeshi. “Tapi tak kulihat Rolver,raja Tian Jin
disana” ucapku sembari terheran heran
dengan gaya berperang mereka yang cenderung tanpa strategi. Dan kulihat sedikit
dari mereka dapat menguasai jurus segel Kematian Abadi,yang sebenarnya hanya
dapat dikuasai oleh Rolver. “Maaf baginda Rizuki,saya mengenal beberapa orang
di pasukan Tian Jin. Yang disana,lelaki remaja berambut merah adalah
Hagure,lalu wanita berambut pirang dan panjang dengan poni itu adalah Miku.Berikutnya
lelaki yang sedikit berkumis dan berjenggot serta punya jambang lebat adalah
Hadi. Yang terakhir,adalah seorang perempuan dengan yukata merah jambunya,bernama
Sonia. Dia juga adalah putri Raja Tian Jin.”Sahut Cheristiawan. Mereka,dan aku
sendiri cukup terkaget mendengarnya. “Kalau begitu kita bantu pasukan Tian Jin.
Prajurit,Maju !!!” Komandoku.
“Hosh
hosh,jurus ini mengambil banyak tenaga dalamku.” Ucap Hadi. “Sama. Aku sudah
tak punya kekuatan untuk mengangkat pedangku lagi.” Balas Hagure. “Dasar lemah.
Cepat bangun para lelaki lemah.” Ucap Miku dan Janabi. Korban di pihak Tian Jin
baru 25 orang,sedang di pihak zombie tinggal 100 prajurit tersisa. Namun
kemudian,muncullah gelombang prajurit zombie baru dari bawah tanah,yang
dipimpin Oracle. “Kalian masuk jebakanku,pasukan Tian Jin. Kini giliran kalian
yang akan meregang nyawa.” Oracle pun tertawa lepas menyaksikan penderitaan pasukan
yang dipimpin Sonia. Pasukan Sonia mulai kehabisan tenaga dan energi. Satu
persatu prajurit bertumbangan. Janabi,Miku,dan Koji yang tadinya tidak terlihat
lelah,terpaksa harus menanggung lelah. Hanya Sonia yang tak terlihat
lelah,menebas ratusan musuh. “Hebat juga kau nona cantik,akan kuhabisi kau
dulu.” Ucap Oracle. “Aku takkan kalah darimu.” Ucap Sonia. Lalu pertempuran
sengit terjadi “Hujan Petir Kekekalan!” Sonia pun mengangkat pedang dan
keluarlah hujan petir,sempat mengenai Oracle. Namun sang pemimpin Zombie itu
tak merasa luka sedikitpun. Meski beberapa zombie mulai terkapar terkena petir
tersebut. “Hanya segitu kemampuanmu? Akan kuperlihatkan jurusku . Jurus Pedang
Kesunyian dan Kehampaan !” Lalu mulailah jurus ini mengeluarkan efeknya. Sonia
dan pasukan Tian Jin mengalami perlambatan waktu. Seakan mereka berada di
ruangan hampa udara “Huaakhh” “Akkh” 10 prajurit pun tumbang meregang nyawa,tertebas
pedang Oracle. “Sial aku tak boleh lengah,Raungan Serigala.” Suara pedang Sonia
pun menggelegar,memekakkan telinga,bahkan Oracle pun harus menghentikan
serangannya. “Hufft suara ini !” Oracle tak tahan dengan suaranya. “ Terimalah
ini,Terkaman Burung Hantu !”
Hagure
pun menebas lengan Oracle,hingga dapat memutuskannya. Namun,ia terkaget bahwa
lengan yang putus itu tumbuh kembali. “Kalian takkan bisa membunuhku tanpa
menggunakan segel Kematian Abadi. Terimalah Zombie Attack !” Oracle pun
menyerang dan menebas Hagure hingga ia terluka parah “Uakkkhh” Darah pun keluar
dari tubuh Hagure. “Miku,obati Hagure. Aku akan membunuh Oracle” Sonia
menangkap tubuh Hagure,dan memberi tubuh Hagure kepada Miku. Lalu kemudian ia
bergegas,dan mencoba menyerang balik Oracle,di saat ia lengah. “Jurus segel
Kematian …” Sonia mencoba merapal mantranya,namun ia tak dapat bergerak “Jurus
Pedang : Kehancuran dalam Diam !” Oracle pun merapal jurus mantranya,dimana ia
mengarahkan pedangnya menuju tanah. “Bersiaplah serangan pamungkasku,Hujan
Bunga Darah !” Oracle pun mengeluarkan sihirnya dan banyak bunga yang mempunyai
mahkota tajam ,bersiap melukai dan membunuh Sonia,yang diam mematung.
“Sial
bagaimana ini,aku tak bisa lepas dari jurusnya.” Ucap Sonia . Namun,disaat dia
berputus asa,pasukanku pun berdatangan. “Mantera Pelindung !” Cheristiawan
melindungi Sonia,dan bunga-bunga itu hancur seketika. “Jurus Segel Kematian
Abadi !!!!” Bima,Claymore dan Fujiwara pun segera langsung menghabisi pasukan
zombie itu,sehingga yang tersisa tinggal 400 orang. Sedang pasukan Tian Jin
hanya tersisa 100 orang. “Hai sang
pemimpin pasukan zombie,akulah lawan yang sepadan untukmu.” Ucapku. “Cuih,dasar
sombong kau Rizuki. Aku adalah Oracle, zombie yang takkan bisa tersegel dengan
mudah.” “Kita lihat saja nanti. Elang Api !” Dari pedangku keluar burung elang
yang terbalutkan api yang membara. Namun itu tidak membakar ataupun memberi
efek kepada Oracle. “Hanya Segel Kematian Abadi yang dapat kalahkanku.” Seloroh
Oracle. Tapi ia lengah,dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk
menyerang cepat. “Tebasan Angin !” Aku pun dari belakang langsung memenggal
kepalanya. Sayang,ia tetap hidup,lalu tubuhnya mengambil kepala dan memasangnya
kembali.
“Udah dibilang,Aku sebagai Oracle,sang pemimpin
Zombie hanya bisa dibunuh dengan Segel Kematian Abadi. Cuih ! Pasukan Zombie
serang dia !.” Pasukan zombienya yang tersisa 400 orang mencoba mengeroyokku. “Segel
Kematian Abadi !” Dalam sekejap tebasanku langsung memusnahkan semua
prajuritnya. “Kurang ajar !!!!! Akan kuserang kau !! Kegelapan Keabadian !!”
Pedang yang ia pegang menghapus cahaya purnama dan membuat malam menjadi
mencekam. Semua prajurit pun merasa ketakutan melihat jurus ini,kecuali diriku.
Aku hanya menatap tenang jurus ini. Lalu kuangkat pedang berwarna keemasanku
yang kuambil di tangan kiriku,”Cahaya Kebijakan !!” Cahaya terang menyilaukan
mata semua orang,tak terkecuali Oracle. Cahaya itu pun segera menghapus jurus
Oracle. Ia kembali lengah,dan takkan kusiakan kesempatan ini. Dengan pedang
kusanagi yang berwarna gelap di tangan kananku. Kusarungkan pedang
keemasanku,lalu kupasang kuda-kuda. “Segel Kematian Abadi” Ku lempar
pedangku,dan kutangkap di saat masih mengudara. Lalu segera ku lakukan gerakan
menebas,dan arah tebasannya pun kemudian menyayat,memotong,dan merobek-robek
tubuh Oracle. “Uaaakkhhh,awas kau Rizuki. Erlang pasti akan membunuhmu !”
Kata-kata terakhirnya,sebelum ia musnah menjadi butiran pasir. Penyergapan pun
selesai dilakukan menjelang fajar.
“Putri
Sonia,kenalkan Aku Rizuki. Aku adalah teman baik bapakmu.” Ucapku
memperkenalkan diri. “Terima kasih,tuan Rizuki. Jasa baikmu akan segera
kukenang. “Cheristiawan kau antar Putri Sonia dan pasukannya untuk beristirahat
di istanaku,sembari akan kukirim pesan kepada Raja Tian Jin melalui Bima.” “Baiklah
Paduka Rizuki.” Lalu Cheristiawan mengantar dan mengawal pasukan Tian Jin yang
tersisa. Pasukan penyergapku mengalami kemenangan mutlak,yang kelak akan
membuat murka Erlang,Mars,dan Drackonice.
==========================BersambungkePart13===========================
Rizuki,Pendekar Pedang part 12
Sementara itu,Di desa North,Utara Tian Jin,yang kini dikuasai oleh pasukan musuh. Mereka membangun benteng pertahanan dan loji. Mereka memasang benteng karena jarak pasukan mereka sudah cukup dekat dengan benteng kota Tian Jin. Dan lagi,pemimpin mereka tidak mau terburu-buru dalam menyerang benteng musuh,sembari menunggu keadaan dimana pasukan musuh lengah. Selain di desa North,juga dibangun pos-pos pertahanan di beberapa desa yang telah dibumihanguskan dan benteng khusus untuk pasukan zombie mereka di desa Trem,ada 8 berbentuk setengah bola yang besar,berjarak berjauhan. Mungkin hanya terlihat seperti gundukan pasir besar,namun para zombie itu mempunyai lorong bawah tanah yang panjang dan mempunyai alun-alun layaknya pasukan infanteri. Mereka tidak menyukai sinar matahari sama sekali,sehingga terlihat sepi dan hening. "Hoaaa hoaaa" Para pasukan zombie giat berlatih pedang yang dikomandoi Oracle.
Sementara itu, Bentuk benteng di desa North seperti bentuk benteng pusat kerajaan Masaomi,dimana disekeliling benteng dibangun parit sungai yang berisikan ranjau,dan 3 pintu yang dapat dijadikan jembatan. Benteng itu dilengkapi 4 loji yang diisi pasukan pemanah.
"Ayo cepat ! bentuk formasi sayap Garuda !" Ucap seorang panglima perang bernama Kenichi memimpin latihan perang pasukannya di alun alun latihan. "Kuda-kuda bertahan kalian masih salah,ulangi lagi !" Ucap Glamb dan Rena kepada pasukan tombak yang ia pimpin. "Cepat,pasukan pemanah. Lakukan dan bidik sasaran dengan tepat. Masih banyak dari kalian yang meleset." Komando Yukirin. "Sepertinya pasukan kita akan mengalami kejayaan,sayang." Ujar Melody kepada kekasihnya,Erlang. "Ya,mereka berlatih dengan keras." ucap Erlang pendek sembari menggenggam tangan Melody memperhatikan pasukannya berlatih. "Ntar kalau kita menang,traktir kami dan beri hadiah untuk kami, tuan Erlang." Ucap Jeje dan Sonya dengan genit. "Yah,kalian akan mendapat hadiah setimpal atas kerja kalian,para perempuanku." Ucap Erlang.
Di kerajaan Tian Jin,kondisi kerajaan semakin waspada. "Lapor baginda,dari jarak 20 km di desa North tepatnya,mata-mata kami melaporkan pasukan musuh telah membangun benteng dan loji pertahanan. di Desa Trem juga terdapat beberapa gundukan berbentuk setengah bola yang sangat rapat. Tapi kami tidak dapat memperkirakan pasukan apa yang ada di desa Trem" ucap salah seorang prajurit mata-mata melaporkan hasil penyamaran dan penyusupannya. "Terima kasih atas laporanmu prajurit. Sekarang kau boleh pergi." Komando Rolver pun membuat sang prajurit kemudian pergi berlalu. "Apakah di desa Trem itu merupakan markas para zombie musuh?" tanya sang Ratu Stella kepada Rolver. "Bisa dibilang begitu. Mereka sangat takut terhadap matahari,sehingga mereka hanya keluar saat malam atau berjalan didalam tanah. Menurut legenda mereka dapat dimusnahkan dengan segel kematian abadi." Ucap Rolver. "Benar-benar mengerikan pasukan mereka baginda." Kata Menteri membalas ucapan Rolver. Mereka cukup khawatir terhadap pasukan musuh,dimana mereka diperkuat pasukan zombie yang konon susah ditaklukkan. "Yang bisa melakukan segel kematian abadi hanya aku,Kenshin Himura,Bima,Fujiwara,Claymore,yang ketiganya merupakan pengawal setia Raja,dan Rizuki. Rizuki yang mengajari ketiga pengawal raja." Lanjut Rolver. "Siapa itu Kenshin Himura?" Tanya Stella. "Kenshin adalah Guruku dan Rizuki. Ia sangat ahli dalam menguasai jurus pedang. Sayang ia telah tiada." Kata Rolver yang mengulas sedikit siapa itu Kenshin. "Semoga kamu tidak kalah sayang. Mereka sangat banyak." Ucap Stella. "Ya sayang. Zombie itu akan menyerang pada malam hari. Aku berharap mereka tidak menyerang kita malam ini." "Menteriku,kau atur jadwalku dengan para panglima perang kita. Aku akan mengajari mereka segel kematian abadi." "Baik Baginda Rolver." Ucap sang Menteri.
Di dunia roh,Rizuki harus berhadapan dengan ketiga orang,yang dahulu merupakan rekan dan salah satu dari mereka,Rizal adalah kakak Nathania,yang sempat tewas di tangan the Banditers. "Hi kak Rizuki,gimana kabar kak Nathania? Aku kangen dia kak" Tanya Rizal "Baik,Rizal. Dia sekarang sedang berbahagia kok karena sudah mempunyai banyak teman seperti ayana,claymore,nabilah,dan Haruka." Ucapku. " Sudah lama kita tak bertemu. Aku sangat kangen dengan dia,sayang takdir tak bisa buatku menikahi Cindyvia. Gimana dia sekarang? Apa kau telah memberitahu kematianku?" Tanya Fhand. " Dia baik-baik saja. Cindyvia sangat bangga kepadamu,Fhan. Tapi maaf,dia kini telah mempunyai kekasih hati lain." Ucapku kepada Fhan. "Rizuki,marilah kita mulai pertarungan ini." Ucap Surya. "Baiklah." lalu kumulai kuda-kuda. "Eh sebentar,kalian membawa pedang,sedang aku tidak membawa pedang sama sekali." "Kuberikan pedangku untuk kau pakai. Pedang ini bernama Sakabatou." Kenshin memberikan pedangnya yang berkilaukan permata dan jamrud di mata pedangnya. "Jikalau mereka bertiga mati,maka kau akan kembali ke dunia nyata. Jika tidak,maka kau akan mati disini dan bergabung bersama kami." Lanjutnya. Lalu pertarungan itu dimula. "Tarian seribu pedang !" Rizal mengeluarkan jurus pedangnya. Ia biarkan pedangnya terlepas dari tangan,lalu pedang itu bergerak kesana kemari dengan cepatnya,memburuku yang masih harus beradaptasi dengan pedang Sakabatou. Aku pun berusaha menangkis dan menahan gempurannya. Disaat bersamaan,Fhan dan Surya pun berusaha menyerangku. "Pedang naga air !" Surya pun mengeluarkan jurus pedangnya. Pedangnya berubah menjadi air yang membentuk naga,dan bagaikan beribu ombak berusaha menenggelamkanku. "Pedang Kilat Kuning !" Fhan pun jua mengeluarkan kesaktiannya. Sehingga kedua jurus pedang yang dikombinasikan itu berusaha menyengat diriku."Perisai Kehidupan" aku pun berusaha bertahan. Jurus mereka dapat dipatahkan dan dimentahkan. Aku berusaha mengeluarkan jurus pedangnku,namun tidak ada satupun yang keluar. "Sial,bagaimana aku menggunakan pedang ini. Mantera sihir yang bisa kupakai hanyalah perisai sihir dan mantera penyembuh." Dalam hati aku cukup jengkel dengan ini. Aku berusaha berkonsentrasi dan merapal mantera jurus pedang tapi tak ada yang keluar. "Elang api !" "Badai Kematian !" "Lalu Hantaman Api !" aku pun merapal jurus-jurus pedangku,tapi tak ada perubahan. "Terimalah ini Rizuki,Hempasan Getsuga !" Rizal pun mengeluarkan jurus pedangnya,yang diarahkan kepadaku "Hooaaakkh" Aku pun terkena telak jurus Rizal. Muntah darah ku dibuatnya. Jurusnya mengenai perutku. "Aku lupa bilang,Rizuki. Pedang yang kau pakai hanya bisa dipakai oleh jurus-jurus yang pernah kuajarkan kepadamu. Bukan jurus-jurus yang kau ciptakan sendiri." Ucap Kenshin-sensei kepadaku. "zzz baru bilang ni sensei. Mantera Penyembuh !" Aku pun melakukan penyembuhan terhadap diri sendiri. Mereka bertiga membombardir diriku. "Hujan Meteor !" "Seribu bunga Es !" "Kilat Emas Cahaya Kematian !"
Jurus-jurus mereka yang dahsyat siap mematikanku. Tapi dengan tenang ku berdiam diri,menutup mata,lalu ... "Cahaya Pedang Kehancuran !" Keluarlah cahaya kemilau,yang menyilaukan mata semua yang melihat. Ya,ini seperti jurus pedang yang diajarkan Kenshin-sensei,yang juga sempat kugunakan saat melawan Airlangga,salah satu ketua kelompok kecil The Banditers. Semua jurus yang mereka gunakan menghilang. "Kita semua,menghindarlah dari jurus ini,jika tidak pedang kita ikut musnah." Komando Fhan yang diikuti Surya dan Rizal,mereka melompat menghindar beberapa langkah jauhnya. "Hampir saja." Ucap Surya. "Tarian Beribu Bunga Api !" Keluarlah dari pedang Api-api kecil,tapi cukup untuk membakar manusia. "Perisai Air" Surya pun memusnahkan bunga-bunga api itu. "Kemana Rizuki ? Ia menghilang" Fhan dan Rizal kaget mereka tidak melihat sosokku. Ya,aku bergerak cepat. Ku incar bagian belakang mereka yang tidak terawasi dengan baik. Ya lalu kusabetkan pedang menuju arah mereka berdua,namun *tringg* bunyi denting pedang yang matanya beradu. Ternyata Surya dapat membaca arah dan menahanku. "Kalian berdua,jangan lengah" Ucap Surya. Aku ketahuan olehnya,tapi ku kembali bergerak cepat,tak kasat mata."Apa?? Ia menghilang lagi" Surya pun kaget,sempat ia melihat sosokku,namun kemudian tertelan angin. Hingga akhirnya kudapat mengincar dada mereka berdua,dan tepat mengenai mereka. "Huaakk. dadaku tertebas." Fhan pun kaget yang diikuti muntah darah "Uhuk !"Rizal pun batuk darah. Dada Rizal mengenai hal serupa,ia menatap nanar darah yang berasal dari dada yang ia pegang. "Sial." Ucap Surya pendek,ia mengumpat pula keberadaan diriku yang sangat cepat. "Terkaman Naga Keabadian !" Aku pun merapalkan jurus pedang,dimana keluarlah Naga berwarna keemasan yang kemudian memukul telak Surya. "Huaaa." Dan ia terpental beberapa meter hingga menubruk pohon beringin . "Jurus Pamungkas,Sabit Roh Kematian !" Pedang itu lalu mengeluarkan sosok dewa kematian,yang membawa sabit besar,dan kemudian mengeluarkan sabetannya. Rizal,Fhan,dan Surya pun terkena telak,dan pepohonan rubuh dibuatnya. Mereka pun juga tertimpa pepohonan. "Uuurrgh." Mereka tak bisa bergerak sama sekali. "Hufft,kami kalah. Tenaga kami sudah habis." Ucap Fhan "Rizuki,segel roh mereka dan diriku dengan Segel Kematian Abadi,agar kami tenang sampai di surga. Kan kukembalikan dirimu menuju dunia nyata. " Ucap Kenshin yang kemudian membuat segel Teleport khusus membuka dunia nyata. "Segel kematian Abadi !" Kuucapka mantera itu,lalu tubuh mereka mulai melepas satu persatu "Terima kasih Rizuki,muridku. Kau akan tetap kukenang sebagai murid terbaikku." Ucap Kenshin yang kemudian menghilang bagai butiran debu. "Terima kasih Rizuki,kau teman terbaikku" Ucap Surya yang lalu sosoknya menghilang ditelan kabut. "Rizuki,titipkan salam terakhirku untuk Cindyvia. Aku sangat menyayanginya,Ku kan selalu menjaga hatinya." Kata-kata terakhir Fhan yang terucap dari bibirnya,lalu kemudian hilang tertiupkan angin. "Rizuki,aku titip salam untuk kakakku. Dan kirim pesanku ini,bahwa dalam kalung yang ia pakai,terdapat sisa tenaga dalamku yang cukup untuk melindungi dirinya saat berperang. Aku nanti akan bertemu kembali dengannya meski singkat. Terima kasih telah menjaga kakakku,Nathania." Ujar Rizal yang kemudian menitikkan air mata terakhirnya,sebelum tubuhnya kemudian terbakar hingga menjadi abu."Terima kasih semua. Berkat kalian aku bisa kembali ke dunia nyata." Balasku kepada mereka semua. Lalu ku menuju gerbang teleport yang masih terbuka,dan kemudian setelah kumasuki,tertutuplah dengan sempurna dan segera mengembalikanku ke dunia nyata.
Di istana,kubuka mataku dengan perlahan. "Ah,ku telah kembali hidup." Aku pun kemudian tersadar dari tidur panjangku. Kulihat Haruka dan Nabilah tertidur di atas dadaku. "Nabilah,Haruka. Bangun !" Mereka berdua terbangun. "Hah kak Rizuki?? Ini beneran kakak Hidup?" Nabilah pun terkaget. Aku pun mulai mengubah posisiku menjadi duduk di tempat tidur. "Kak Haruka bangun,kak Rizuki kembali." teriak Nabilah . Dia pun menggoyangkan tubuh Haruka,yang kemudian bangun dengan setengah sadar. "Rizuki-san? Kamu hidup lagi? Aku kangen kamu sayang !" Lalu ia memelukku dengan erat,tak ingin terlepas dia dari diriku. Kurasa hangat menjalar dari tubuhnya. Ah,mataku pun berkaca-kaca,terharu ketika kulihat ia dengan setia merawatku. Kemudian kukecup kening dan pipinya dengan mesra. "Haruka,aku hidup kembali untuk dirimu,ayana,nabilah,kotaku,dan perang yang harus kuselesaikan."
===========================Bersambung ke part 12============================
Rizuki,Pendekar Pedang part 11
"Hei wanita jalang siapakah dirimu ?!" Tanya Haruka dengan nada tinggi,menahan emosi dan rasa cemburunya ketika melihat wanita itu memeluk Rizuki. "Apa maksudku menyebutku wanita jalang hah??? Aku adalah Putri Cindy,anak bungsu raja Cheng sekaligus istri dari Rizuki !" Cindy tak terima dengan ucapan Haruka. "Apa ??? Tak Mungkin ! Rizuki adalah suamiku !" Haruka kaget dengan pernyataan Cindy. Ia tak terima bila hatinya diduakan oleh wanita lain. "Hei kamu ! Aku tak segan untuk membunuhmu ! Rizuki adalah satu-satunya suamiku yang kucintai." Cindy pun mengeluarkan mata pedang katananya dan menunjuk Haruka. "Aku sangat mencintai Rizuki !" Lalu Cindy pun berlari menuju ke Haruka untuk menusuknya. "Claymore,aku pinjam pedangmu." Haruka pun mengeluarkan pedang milik Claymore,pengawalnya,dan mempersiapkan kuda-kudanya. "Rizuki adalah milikku ! Anak yang kukandungnya adalah hasil hubunganku dengannya !" Ujar Haruka "Cindy dan Haruka,dengarkanku dulu.." Aku berusaha untuk melerai mereka,namun kedua perempuan yang merasa cemburu dan tersakiti tak mendegarkan dirinya dan memulai pertarungan.
Alunan bunyi pedang pun berdenting tatkala Cindy berusaha menyerang Haruka,namun serangannya dapat ditangkis pedang Haruka. Bunga api kecil terus bermunculan disaat kedua mata pedang bergesekkan,mencari kelemahan lawan. Pertarungan berlangsung cepat dan sengit. Haruka,meski tak pernah memegang pedang sebelumnya,namun sangat lihai memainkan pedangnya dengan menggunakan jurus Kendonya. Cindy cukup kewalahan membongkar pertahanan Haruka. Disaat Cindy tak menyadari pertahanannya,Haruka pun langsung menendang perut Cindy. Terlemparlah ia cukup jauh,namun masih dapat berdiri. "Aku akan membunuhmu sekarang juga !" Haruka pun mengamuk dengan sejadi-jadinya,bergerak cepat ke arah Cindy. "Aku akan menghabisimu disini,wanita tak tahu diri !" Cindy pun juga bergerak menuju arah Haruka. Dua mata pedang mereka siap untuk menembus kulit manusia yang menjadi incarannya. "Hentikan " Suara parau keluar dari mulut diriku yang menahan serangan mereka. Aku berusaha menghentikan mereka,2 pedang itu kugenggam hingga keluar darah dari tanganku. Namun sayang,kedua mata pedang itu tetap lolos dan menusuk perutku. "Maafkan aku,sebenarnya kalian berdua adalah istriku. Aku mencintai kalian...." Aku tak sempat menyelesaikannya,roboh terbaring diatas tanah. "Rizuki .......!" Cindy pun menangis,berteriak memanggil Rizuki. "Rizuki,kumohon kamu jangan mati !! Aku ingin kita berdua bisa merawat anak kita !" Haruka menangis,menyesal. Bima dan Fujiwara pun segera menghampiri tubuhku. "Tuan Rizuki masih bisa diselamatkan. Bila tak segera ditolong,ia akan meninggal. Aku akan membawanya ke istana. Fujiwara panggil Takeshi,Ayana dan medis untuk merawat dan menyembuhkan Rizuki secepatnya !" Komando Bima yang segera mengambil alih keadaan. "Semua yang ada disini segera kembali ke posisi semula !" Ia pun segera membawa diriku yang tak sadarkan diri menuju istanaku.
"Haruka,maafkan aku. Semestinya kita sebagai kedua istrinya bisa saling mengerti.: Ucap Cindy. "Iya,maafkanku juga Cindy. Aku semestinya memberitahu dirimu bahwa dulu saat bertemu diriku ia sama sekali mengalami amnesia. Lalu ingatannya mulai pulih setelah kehadiran 3 pengawalnya,Claymore,Bima,dan Fujiwara. Semestinya aku tak menikahi dirinya." Ujar Haruka yang menyesal. "Tak apa,memang bukan salah kita atau Rizuki,melainkan keadaan. Tapi aku turut bersuka cita atas pernikahanmu dengan Rizuki yang telah membuatmu mengandung anak darinya. " Ucap Cindy. "Terima kasih Cindy." Haruka pun menyeka air matanya dan kembali tersenyum. Lalu mereka berdua kembali menuju istana dengan berangkulan.
Di istana Rizuki,
Seluruh isi ruangan mencemaskan diriku. Baik Bima,Haruka,Cindy "Bagaimana kondisi tuan Rizuki?" Tanya Bima kepada Takeshi,Ayana dan beberapa medis yang merawatku. "Sekarang kondisinya sudah membaik dan stabil. Luka-lukanya sudah kami obati. Namun kami tak tahu kapan dia sadarkan diri. Ia mengalami mati suri. Hanya waktu yang dapat membuatnya hidup lagi" Ucap Takeshi yang membuat seluruh isi ruangan menjadi was-was. "Ayana,aku minta tolong kepadamu untuk menjaga Rizuki." Ujar Bima. "Baiklah kak Bima,akan segera kulaksanakan sebaik yang aku bisa." kata Ayana. "Dan untuk sementara komando kota Rizuki akan aku pimpin bersama Fujiwara dan Claymore." Ucapnya kepada penghuni istana. " Tapi kenapa bukan diriku? aku adalah istri Rizuki,sekaligus ratu disini." Protes Haruka. " Maafkan saya atas kelancangan saya dalam berbicara,tapi mengingat anda sedang mengandung anak dari tuan Rizuki,tuan Rizuki tidak mau jikalau ada terjadi sesuatu dengan dirinya,anda tak boleh memerintah kota hingga anda telah melahirkan. Begitulah titahnya." Penjelasan dari Bima dapat diterima oleh Haruka dengan lapang dada.
Sementara itu sesampainya di istana Tian Jin,Rolver pun menyambut istrinya dengan suka cita. "Bagaimana istriku yang cantik,Stella. Apakah ada kabar baik bagi kerajaan kita tercinta ini selama aku dalam perjalanan?" Tanyanya kepada Stella yang sedang duduk di kursi raja. "Tak ada sayangku Rolver,tapi kabar buruk banyak. Pasukan aliansi musuh telah menguasai Utara kerajaan,Sayang. Dan mereka minggu lalu mengirim utusan kesini untuk memberikan sepucuk surat ancaman. Bila kita tidak menyerah dalam kurun waktu 1 bulan ini,kerajaan kita akan ditaklukkan" Ucap Stella . "Apa/?? " Raja dan menteri pun kaget mendengar berita ini/ "Berarti hanya tersisa waktu 3 minggu lagi." Ucap Rolver. "Menteri panggil komandan Hadi Raishu dan Hagure Yuusha kesini." Perintah Rolver yang segera ditanggap cepat oleh menterinya. Tak lama 2 orang itu telah berhadapan dengan Rolver. "Ada apa tuan Baginda memanggil kami?" Tanya Hadi memulai pembicaraan sembari bersimpuh yang diikuti Hagure. "Aku ingin kalian berdua memimpin pasukan besar kita. Setengah pasukan akan dipimpin Hadi untuk berada di garis depan dan sayap kiri menyerang pasukan musuh." "Perintah anda akan saya laksanakan" Ucap Hadi. "Sedang untuk Hagure Yuusha,kau akan memimpin setengahnya untuk menjaga istana,bergerak di sayap kanan dan mempersiapkan bala tentara cadangan." "Baik,baginda." Ucap Hagure. "Persiapkanlah dengan baik. Kemenangan Tian Jin ada di tangan kalian" "Hamba akan segera menjalanka titah baginda sebaik-baiknya." ucap mereka berdua. Lalu mereka segera pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Sementara seluruh isi ruangan istana mencemaskanku,Aku sekarang ini berada di alam bawah sadarku. Kulihat langit Jepang dipenuhi bunga Sakura yang bermekaran. Berikut pemandangan rumah rumah jepang yang asri nan hening. Lalu,Kenshin Himura,tiba-tiba mendatangiku. "Hi Rizuki,muridku. Lama kita tak berjumpa." Ucapnya. Aku seakan dibuat tak percaya. "Sebenarnya aku ada dimana?" Tanyaku ringan. "Kita sekarang berada di antara alam dunia dan alam roh. Kamu sekarang di dunia sedang mati suri,namun kamu masih belum menerima kematianmu." kata Kenshin. "Aku melihat dari sini,bahwa kamu sedang dihadapkan pada musuh lamamu,Erlang yang akan mengobarkan perang." "Benar Kenshin-sensei." Ucapku "Tapi kamu takkan bisa mengalahkannya tanpa mengeluarkan jurus yang benar-benar bisa mengalahkannya. Aku akan mengajarkan jurus Sabit Roh Kematian,jurus pamungkasku." "Tapi sensei,jurus itu memerlukan waktu lama. Dan saat ini aku tak punya waktu lagi." "Aku akan mengajarkan kuda-kudanya. Kuda-kudanya mirip jurus kendo dasar,lalu kemudian kau lemparkan pedangmu,dan tangkaplah dari langit. Terakhir kerahkan tenaga dalammu." Kucoba cara yang diberikan oleh guru Kenshin. Beberapa lama selalu gagal. 20x percobaan gagal. Namun ku tak menyerah,hingga akhirnya aku pun dapat menguasai jurus itu. Efek jurus itu sangat dahsyat,hanya dalam hitungan detik 100 pohon besar disekitarnya terbelah. "Aku sangat suka dengan perkembanganmu. Kini tibalah saatnya untuk kembali ke duniamu. Tapi sebelumnya kau harus menghadapi mereka." "Siapakah itu guru?" Lalu Kenshin memanggil mereka. dan tibalah 3 sosok yang dahulu pernah dilihat Rizuki tewas. Fhand Dhick,Rizal,dan Surya kembali berada dalam hadapannya. "Jika kau tidak bisa mengalahkan mereka,kau akan disini selamanya."
===================================Bersambung ke part 11======================
===================================Bersambung ke part 11======================





.jpg)


