Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Saat terlihat senja
memerahkan langit.
Terduduk dalam sepi,
Meski angin mencoba
menyentuh raga ini.
Berteduh dibawah
pepohonan yang rindang,
Meresapi kenangan yang
sempat terukir diantara kita.
Terasa membekas, takkan
pernah terlupa.
Meski kini engkau
meninggalkanku,
Dari dunia yang sempat
menghidupi.
Diam seribu bahasa,
Menyaksikan detik-detik
terakhir hidupmu.
Tragis memang, hingga
berurai air mataku.
Namun, ini hanyalah
seberkas takdir,
Yang membiaskan
harapan.
Cinta, satu kata
pengikat hati.
Takkan terpisah, kekal
abadi.
Kelak aku akan
menyusulmu,
Melanjutkan cumbu dan
peluk yang dulu hadir.
Mengembangkan lagi
candu asmara,
Menumbuhkan hasrat yang
membara,
Sembari berpagutan
lidah, menikmatinya disana.
Di surga yang
membahagiakanmu
Aku Akan Menyusulmu
Kemanakah cinta berlabuh,
Tatkala badai dihunjamkan.
Jangkar tak lagi bisa diturunkan,
Memantikkan ombak yang ganas,
Menghantam lambung kapal yang telah lapuk, menua,
Catnya telah usang, kelabu.
Aku hanya bisa menatap kosong,
Menahkodainya sendiri, hampa.
Tak terganggu oleh mereka,
Namun bisa kurasakan,
Pepesan kosong langit, yang menakdirkanku
Untuk tak lagi bersamanya.
Setengah karam, tapi kuberusaha bertahan.
Terpaan topan pun terasa bagaikan luka gores.
Ya, hanya satu yang membuatku terjatuh,
Dan tak bisa bangkit lagi.
Ya, itu ketika engkau menolakku,
Berpaling dengan arjuna lain.
Aku hanya bisa tersenyum.
Senyum getir yang menyakitkan,
Sangat perih, bahkan melebihi hujan es,
Yang mencoba mematikanku.
Aku akan terus disini,
Takkan kubah kemudi,
Arah yang kutuju hanya satu,
Tetap berusaha mencintaimu
#Poetry
Tatkala badai dihunjamkan.
Jangkar tak lagi bisa diturunkan,
Memantikkan ombak yang ganas,
Menghantam lambung kapal yang telah lapuk, menua,
Catnya telah usang, kelabu.
Aku hanya bisa menatap kosong,
Menahkodainya sendiri, hampa.
Tak terganggu oleh mereka,
Namun bisa kurasakan,
Pepesan kosong langit, yang menakdirkanku
Untuk tak lagi bersamanya.
Setengah karam, tapi kuberusaha bertahan.
Terpaan topan pun terasa bagaikan luka gores.
Ya, hanya satu yang membuatku terjatuh,
Dan tak bisa bangkit lagi.
Ya, itu ketika engkau menolakku,
Berpaling dengan arjuna lain.
Aku hanya bisa tersenyum.
Senyum getir yang menyakitkan,
Sangat perih, bahkan melebihi hujan es,
Yang mencoba mematikanku.
Aku akan terus disini,
Takkan kubah kemudi,
Arah yang kutuju hanya satu,
Tetap berusaha mencintaimu
#Poetry
Kapal Cinta Yang Usang
Langit senja yang indah,
Terpancarkan merahnya di udara.
Bersama dirimu, menyaksikannya bagai beribu warna.
Hening menyepi, menjadi ramai karena senyummu.
Serbuan angin seolah mendinginkan batin.
Saat ia merasakan panasnya asmara,
Terasa menyelinap hingga ubun-ubun.
Sakit memang jika tertahan,
Rasa yang terpendam
Namun terluap bahagia jika terungkap
Gelora cinta kita menghapuskan rasa rindu,
Resah tiada menghampiri sudah.
Bersamamu, selalu merasa damai diriku.
Sunyi kelabu telah tamat, berganti pelangi
Pancaran matamu, pipi putihmu yang merona
Rambut panjangmu yang berkibar, memecah angin
Melihatmu saja membuat bersemangat,
Bagaikan lentera yang menyinari.
Tiada kata hampa
yang menghinggapi,
Jikalau engkau selalu menyertaiku.
Potongan hati yang kini terlengkapi,
Saat jiwamu menyatu denganku.
Engkau hidupkan harapan yang sempat meredup,
Peluk hangatmu menenangkanku dari kalut.
Hanyalah dirimu yang ada di hatiku,
Selalu .......
Terpancarkan merahnya di udara.
Bersama dirimu, menyaksikannya bagai beribu warna.
Hening menyepi, menjadi ramai karena senyummu.
Serbuan angin seolah mendinginkan batin.
Saat ia merasakan panasnya asmara,
Terasa menyelinap hingga ubun-ubun.
Sakit memang jika tertahan,
Rasa yang terpendam
Namun terluap bahagia jika terungkap
Gelora cinta kita menghapuskan rasa rindu,
Resah tiada menghampiri sudah.
Bersamamu, selalu merasa damai diriku.
Sunyi kelabu telah tamat, berganti pelangi
Pancaran matamu, pipi putihmu yang merona
Rambut panjangmu yang berkibar, memecah angin
Melihatmu saja membuat bersemangat,
Bagaikan lentera yang menyinari.
Tiada kata hampa
yang menghinggapi,
Jikalau engkau selalu menyertaiku.
Potongan hati yang kini terlengkapi,
Saat jiwamu menyatu denganku.
Engkau hidupkan harapan yang sempat meredup,
Peluk hangatmu menenangkanku dari kalut.
Hanyalah dirimu yang ada di hatiku,
Selalu .......


.jpg)
