Oy oy oy sudah lama gak update postingan dimari. meski di dunia maya sang admin masih berkarya, namun di blog sudah jarang. meski begitu admin punya blog baru. Yakni Kuroi Tenshi Sub , blog khusus meng-reupload anime-anime lawas. masih baru kok, jangan khawatir. sekian dan terima kasih.
Tujuan munculnya Kuroi Tenshi Sub adalah untuk membantu fans anime yang sering banget menemukan link anime favoritnya yang mau didonload telah kadaluarsa alias mati. blog baru ini juga tak perlu ribet-ribet karena masalah adsense, ppc, dll. so, this is FREE!!! :v
Project ini masih iseng-iseng kalau gak ada kerjaan di kampus. sudah penat sama kuliah. Baru 2anime yang baru diupload, yakni :
1. Danshi Koukusei no Nichijou
2. 5 cm Per Second.
Rencana ada 5 anime lain yang mau di re-upload :
1. Deadman Wonderland
2. Danganroppa The Animation
3. Bungaku Shoujo (Movie)
4. Machine Doll wa Kizutsukanai
5. KissxSis (Tv series)
dan masih menunggu anime lainnya :3
Promote New Blog
Peperangan antara Athena melawan Kronos sudah berlangsung
selama tiga hari. Kronos, yang dibantu Gaia, Minos, serta para Demigod dan
Hobgoblin. Mereka sudah mengepung tiga kuil utama milik Athena, diantaranya
Hephaestus, Poseidon, dan Zeus. Untuk membasmi mereka, kami para dua belas saint tangguh ditugaskan untuk mencegah
mereka di kuil utama.
Aku, bersama saint Capricorn,
Pisces, Aries, dan para prajurit ditugaskan untuk mencegah pasukan Kronos
memasuki kuil Poseidon. Perlawanan sengit kami berikan, hingga titik darah
penghabisan.
“Seraaaangggg!!”
Kronos dan Capricorn mengeraskan suara mereka, memberi
komando kepada prajuritnya, untuk saling menghabisi. Adu pedang pun terjadi
diantara para prajurit. Beribu panah dan tombak terlempar di udara, mencari
mangsa. Meski kami kalah jumlah, namun semangat kami demi Athena takkan
memudar.
“Pygmachía págou!” aku
pun mengepalkan tinju ke arah beberapa demigod yang mencoba mengepungku. Dari tinjuku,
keluarlah tenaga astral, yang kemudian membekukan mereka. Tak lama kemudian,
mereka pun hancur berkeping-keping. Dua demigod yang tersisa, kutendang mereka
tepat di kepala. Membuat mereka terkapar seketika. Setelah pertarungan pertama
usai, kulihat Pisces bertarung sengit dengan para Hobgoblin. Ia terlihat
kewalahan.
“Neró Thánatos!” tenaga astral yang ia keluarkan berubah
menjadi air bah, menghanyutkan semua Hobgoblin. Di saat yang bersamaan, tanpa
ia sadari seorang demigod mencoba menusuknya dengan belati. Aku segera berlari,
dan memukul sang demigod.
“Terima kasih telah menolongku, Aquarius. Tapi, engkau tahu
sendiri kalau belati biasa takkan bisa membunuhku. “ sindirnya.
“Tak usah sungkan, Pisces. Aku tahu engkau pasti
membutuhkanku. “ balasku, dengan nada sedikit mengejeknya.
Tak lama, beberapa prajurit Athena pun datang mengelilingi
kami, mencoba melindungi dari serangan musuh.
“Apa kau tak apa, tuan saint
Aquarius dan saint Pisces? Kami
mengkhawatirkan kalian.“ ujar Andromeda, salah satu ajudanku. Ajudan yang
menurutku luar biasa cantik, dengan wajah dan mata bulat, serta berkulit putih
mulus.
“Kami berdua tak
terluka sedikitpun, Andromeda.” Ujarku, sembari mengelus rambut dan mengusap
pipinya.
“Lebih baik kita menyusul Capricorn dan Aries. Mereka pasti
sudah berusaha ke tempat Kronos berada.” Balas Pisces, yang mengusik keberadaanku
dan Andromeda. Aku pun segera beranjak dari tempatku berdiri, lalu berlari
menuju tempat Capricorn dan Aries. Pisces, Andromeda, dan lainnya mengikutiku.
Kami terus berlari, menerobos pepohonan, menghindari ribuan
panah yang datang silih berganti. Para demigod dan hobgoblin yang mencoba
menghalangi, kami hancurkan.
“bála neró!” Pisces
mengeluarkan tenaga astral dari mulutnya, menghasilkan bola-bola air yang
mementalkan demigod.
“Ánemos kófti̱ Psychí̱!”
kukeluarkan tenaga astral, hingga berubah menjadi angin badai. Badai tersebut
sangat cepat, hingga beberapa tubuh hobgoblin terbelah menjadi banyak bagian
kecil.
Pada akhirnya, kami sampai di padang rumput yang luas. Hujan
tak menghalangi langkah. Kami seakan menangis tatkala melihat para prajurit
Athena banyak yang terluka dan tewas. Yang tersisa tinggallah Capricorn dan
Aries yang masih bisa berdiri tegak, melawan Kronos yang kini berubah menjadi
raksasa setinggi tiga meter. Terlihat olehku, beberapa prajurit yang terluka
parah seperti Perseus, Penelope, Orion, Jason, dan Hektor, yang dahulu juga
adalah teman seangkatan saat masih di akademi. Mereka berlima ditambah Januar,
yang kini berhadapan dengan Kronos, adalah sahabatku. Hanya aku dan Januar yang
terpilih menjadi dua belas saint
Athena. Aku mendapat gelar saint Aquarius,
sedangkan ia mendapatkan Capricorn.
“Januar, bagaimana kondisi saat ini?” tanyaku kepadanya. Guratan
lelah dan butir keringat terlihat dari wajahnya. Armor yang ia kenakan pun banyak terkoyak dan penyok sana-sini. Senasib
dengan Aries, yang kini terduduk lemas, ditemani oleh Andromeda dan Pisces.
“Buruk sekali. Ia terlalu kuat. Aku tak yakin kita berempat
bisa mengalahkannya, Februarius.”
“Tapi mengapa ia bisa menjadi raksasa?” aku pun masih
terheran-heran dengan kehebatan seorang Kronos, yang saat ini sedang
meraung-raung, mencoba merangsek maju menuju kuil. Pertanyaanku tak digubris
olehnya. Ia hanya bisa bergeming. Menatap matanya seolah ia telah mengalami
kekalahan pahit. Lautan putus asa dan ketakutan menghampiri dia.
“Januar, aku yakin kita bisa mengalahkannya. Athena pasti
akan membantu kita.” Aku mencoba memberinya semangat. Namun, semangatnya telah
hancur. Sama seperti para prajurit yang terluka itu.
“Pisces, sembuhkan Aries dengan tenaga pemulihanmu.
Andromeda dan para prajurit yang masih bisa berdiri, lindungi mereka yang
terluka dari para demigod dan Hobgoblin yang menyerang tiba-tiba.” Aku segera
mengambil alih komando pasukan. Mereka pun sigap, mematuhiku.
““Pygmachía págou!” kuarahkan tenaga astralku yang berupa
es, mencoba membekukan kaki kiri Kronos. Cara tersebut tak berhasil. Es terlalu
cepat mencair.
“Bagaimana bisa?” aku kaget ketika jurusku tak berhasil.
Kronos itu melihatku, lalu melancarkan jurusnya, berupa bola hitam, yang bisa
meledak saat tersentuh. Aku berhasil menghindarinya, membuat bola tersebut
menyentuh tanah. Tapi angin ledakan tersebut mengenai Januar, membuat ia
terpental.
“Sial! Mengapa Januar tak menghindar?” aku pun bergegas,
lalu menggendong Januar, yang terlihat lesu, dan memindahkannya ke tempat yang
cukup jauh dari jangkauan sang raksasa.
“Januar, ini seperti bukan dirimu yang sebenarnya.”
“Maafkan aku, Februarius. Tenaga astralku tersisa sedikit.” Aku
yang gemas melihat tingkahnya, segera menampar wajah Januar.
“Januar!! Kemana kepercayaan dirimu dan semangat pantang
menyerah yang sangat tangguh itu? Apa kau tak ingat saat engkau bisa
mengalahkan saint Leo, yang terpaksa
harus menelan ludahnya sendiri akibat kesombongannya sendiri, yang mengaku
terkuat diantara kita, para saint? Ataukah
saat kita bisa menaklukkan Hades dan para pengikutnya ketika mereka mencoba
menyerang kuil milik Apollo, saudara Athena? Dua kejadian itu sangat mirip
dengan saat ini, dimana tenaga astral yang kita miliki tinggal sedikit. Tapi,
semangatmu terus berkobar. Bahkan, para prajurit selalu membela dan
mengikutimu, seperti engkau seorang pemimpin mereka, melebihi Athena!”
“Februarius, maafkan aku karena selama ini membohongimu. Semangat
yang terus kuletupkan itu hanyalah sebagai penutup rasa takutku akan kematian.
Leo dan Hades sama seperti kita, para manusia yang bisa mati. Tapi Kronos? Ia hidup
abadi! Kuserang ia berkali-kali, ia malah semakin menjadi-jadi. Bahkan kini ia
berwujud raksasa! Bagaimana kita akan mengalahkannya?!” ocehannya hanya
menambahkan rasa maluku, tatkala aku terus mengagumi dia sebagai teman dan
sahabat. Sementara Kronos sendiri mengamuk. Tak peduli Demigod, Hobgoblin,
ataupun prajurit Athena, ia injak dan hancurkan. Terlihat Aries yang mulai
pulih, dibantu Pisces, mencoba menahannya, sembari menyelamatkan Andromeda dan
para prajurit yang tersisa.
“Dengarkan aku, Januar. Apa kau tahu Tombak Sanctuary?”
“Tombak Sanctuary? Bukankah itu hanya legenda?”
“Tidak. Athena memang memilikinya. Tombak itu pernah
digunakan untuk menaklukkan Titan, saudara Kronos. Aku telah diberitahu oleh
Athena bahwa tombak tersebut bisa membunuh Kronos, dengan menusuknya tepat di
jantungnya.”
“Tapi, tak mungkin Athena akan kesini dengan membawa tombak
tersebut, Februarius.”
Dengan astralku yang tersisa, kukeluarkan tombak tersebut. Tombak
yang indah dan besar, seukuran dengan tongkat Zeus dan Poseidon.
“Athena menitipkannya kepadaku, Januar.”
Tombak bermatakan berlian dan bergagangkan perak, yang telah
dialiri darah Titan dan doa oleh Athena. Januar terpukau dengan tombak
tersebut. Tombak itu pula yang membuat harapannya kembali. harapan untuk
menaklukkan Kronos.
“Aku akan menjadi pengalih perhatian. Februarius, kau fokus
ke jantung Kronos.”
“Yah, itu baru sahabatku.”
Kami berdua lalu melancarkan serangan. Januar berlari menuju
Kronos.
“chília bullet trén!”
tenaga astral milik Capricorn pun bergejolak, mengeluarkan ribuan bunga api
sebesar meteor. Api-api tersebut mengganggu Kronos, yang memakai lengannya
untuk menghalau serangan. Disaat yang bersamaan, kupijakkan langkahku ke lutut
kanan Kronos, lalu berpindah ke perutnya, sebelum aku berhasil berada di dada
sang raksasa. Saat Kronos membuka lengannya, ia terlambat menyadari bahwa aku
telah menancapkan tombak tersebut.
“Hooaarrrggggh!!!” raungan sang raksasa menyeruak ketika
mata tombak mulai menembus kulitnya. Sekuat tenaga kumasukkan ke dalam raga
Kronos. Hingga dapat menusuk tepat di jantungnya. Tatkala daging didalam telah
robek, mematahkan tulang rusuknya, dan menancap di jantung, serangan terakhir
sang raksasa ia lancarkan secara cepat. Dari mulutnya keluar sinar berwarna
merah kehitaman. Terlihat sinar tersebut sangat panas, melebihi cuaca di
sekitar gunung berapi saat meletus. Sinar tersebut mengarah ke Pisces dan
rombongan.
“Pisces!!! Aries!!! Cepat lari!!” teriakku. Tapi sinar itu
dapat mengejar langkah mereka.
“Tidaaaakkk!!!”
Disaat yang bersamaan, aku dan Kronos pun roboh. Sekejap mata
kulihat sinar kemerahan itu beradukan dengan nyala api yang membara kuat. Sinar
tersebut akhirnya lenyap, bersamaan dengan api tersebut.
“Api itu …. Jangan-jangan ….”
Dengan sisa tenaga yang kupunya, Aku segera bangkit untuk menghampiri
Pisces dan rombongan. Kulihat Pisces berusaha memulihkan pengendali api itu. Sedangkan
Aries, Andromeda, dan prajurit yang tersisa hanya bisa bersedih. Di saat itu
pula, kulihat Armor kuning keemasan
berbentuk layaknya wujud Capricorn yang sebenarnya, setengah kambing bertanduk
dengan berekor layaknya ikan.
“Januar, mengapa engkau mengorbankan nyawamu sendiri?” aku
merasa kecewa tak bisa menyelamatkan salah seorang sahabatku. Aku tak mau lagi
kehilangan teman dan sahabat.
“Februarius, tak usah kau bersedih. Ini memang kemauanku. Kau
berhasil sobat.” Kata-katanya seolah membuatku hancur. Air mata pun meleleh
dari pelupuk mata.
“Februarius, mungkin ini saatnya aku akan gugur sebagai
seorang pahlawan. Pisces, tolong hentikan pemulihanmu.”
“Tidak! Kamu harus kuat!”
Sayang, Pisces menghentikan pemulihannya. Ia hanya bisa
menggelengkan kepalanya, tak bisa menahan kesedihannya lagi.
“Februarius, ada satu pesan yang ingin kusampaikan kepadamu.”
“Sampaikanlah, Januar.”
“Aku akan menitipkan saudariku, Eirene, untuk menjadi
istrimu. Ia sangat mencintaimu, melebih cintanya kepada seorang kakak
sepertiku. Aku kakak yang payah.”
“Tidak, Januar. Kamu saint
terhebat yang dimiliki Athena.” Itulah kata-kata yang bisa kusampaikan
kepadanya, beberapa saat sebelum ajal menjemputnya. Ia pun tersenyum sembari
memejamkan mata untuk selamanya. Hujan pun berhenti, disertai kemunculan
pelangi yang mengiringi kematiannya.
Setelah Kronos dan pengikutnya dimusnahkan, Athena pun
mengadakan prosesi penghormatan dan pemakaman terhadap seluruh prajurit yang
tewas.
“Kunyatakan rasa dukaku terhadap salah seorang saint pemberani, Januar, yang
dianugerahi kekuatan Capricorn. Dan untuk memperingatinya, hari ini kutetapkan sebagai
hari Pelangi Januari.” Ujar Athena.
Legenda Pelangi Januari
Saat terlihat senja
memerahkan langit.
Terduduk dalam sepi,
Meski angin mencoba
menyentuh raga ini.
Berteduh dibawah
pepohonan yang rindang,
Meresapi kenangan yang
sempat terukir diantara kita.
Terasa membekas, takkan
pernah terlupa.
Meski kini engkau
meninggalkanku,
Dari dunia yang sempat
menghidupi.
Diam seribu bahasa,
Menyaksikan detik-detik
terakhir hidupmu.
Tragis memang, hingga
berurai air mataku.
Namun, ini hanyalah
seberkas takdir,
Yang membiaskan
harapan.
Cinta, satu kata
pengikat hati.
Takkan terpisah, kekal
abadi.
Kelak aku akan
menyusulmu,
Melanjutkan cumbu dan
peluk yang dulu hadir.
Mengembangkan lagi
candu asmara,
Menumbuhkan hasrat yang
membara,
Sembari berpagutan
lidah, menikmatinya disana.
Di surga yang
membahagiakanmu
Aku Akan Menyusulmu
Kemanakah cinta berlabuh,
Tatkala badai dihunjamkan.
Jangkar tak lagi bisa diturunkan,
Memantikkan ombak yang ganas,
Menghantam lambung kapal yang telah lapuk, menua,
Catnya telah usang, kelabu.
Aku hanya bisa menatap kosong,
Menahkodainya sendiri, hampa.
Tak terganggu oleh mereka,
Namun bisa kurasakan,
Pepesan kosong langit, yang menakdirkanku
Untuk tak lagi bersamanya.
Setengah karam, tapi kuberusaha bertahan.
Terpaan topan pun terasa bagaikan luka gores.
Ya, hanya satu yang membuatku terjatuh,
Dan tak bisa bangkit lagi.
Ya, itu ketika engkau menolakku,
Berpaling dengan arjuna lain.
Aku hanya bisa tersenyum.
Senyum getir yang menyakitkan,
Sangat perih, bahkan melebihi hujan es,
Yang mencoba mematikanku.
Aku akan terus disini,
Takkan kubah kemudi,
Arah yang kutuju hanya satu,
Tetap berusaha mencintaimu
#Poetry
Tatkala badai dihunjamkan.
Jangkar tak lagi bisa diturunkan,
Memantikkan ombak yang ganas,
Menghantam lambung kapal yang telah lapuk, menua,
Catnya telah usang, kelabu.
Aku hanya bisa menatap kosong,
Menahkodainya sendiri, hampa.
Tak terganggu oleh mereka,
Namun bisa kurasakan,
Pepesan kosong langit, yang menakdirkanku
Untuk tak lagi bersamanya.
Setengah karam, tapi kuberusaha bertahan.
Terpaan topan pun terasa bagaikan luka gores.
Ya, hanya satu yang membuatku terjatuh,
Dan tak bisa bangkit lagi.
Ya, itu ketika engkau menolakku,
Berpaling dengan arjuna lain.
Aku hanya bisa tersenyum.
Senyum getir yang menyakitkan,
Sangat perih, bahkan melebihi hujan es,
Yang mencoba mematikanku.
Aku akan terus disini,
Takkan kubah kemudi,
Arah yang kutuju hanya satu,
Tetap berusaha mencintaimu
#Poetry
Kapal Cinta Yang Usang
Langit senja yang indah,
Terpancarkan merahnya di udara.
Bersama dirimu, menyaksikannya bagai beribu warna.
Hening menyepi, menjadi ramai karena senyummu.
Serbuan angin seolah mendinginkan batin.
Saat ia merasakan panasnya asmara,
Terasa menyelinap hingga ubun-ubun.
Sakit memang jika tertahan,
Rasa yang terpendam
Namun terluap bahagia jika terungkap
Gelora cinta kita menghapuskan rasa rindu,
Resah tiada menghampiri sudah.
Bersamamu, selalu merasa damai diriku.
Sunyi kelabu telah tamat, berganti pelangi
Pancaran matamu, pipi putihmu yang merona
Rambut panjangmu yang berkibar, memecah angin
Melihatmu saja membuat bersemangat,
Bagaikan lentera yang menyinari.
Tiada kata hampa
yang menghinggapi,
Jikalau engkau selalu menyertaiku.
Potongan hati yang kini terlengkapi,
Saat jiwamu menyatu denganku.
Engkau hidupkan harapan yang sempat meredup,
Peluk hangatmu menenangkanku dari kalut.
Hanyalah dirimu yang ada di hatiku,
Selalu .......
Terpancarkan merahnya di udara.
Bersama dirimu, menyaksikannya bagai beribu warna.
Hening menyepi, menjadi ramai karena senyummu.
Serbuan angin seolah mendinginkan batin.
Saat ia merasakan panasnya asmara,
Terasa menyelinap hingga ubun-ubun.
Sakit memang jika tertahan,
Rasa yang terpendam
Namun terluap bahagia jika terungkap
Gelora cinta kita menghapuskan rasa rindu,
Resah tiada menghampiri sudah.
Bersamamu, selalu merasa damai diriku.
Sunyi kelabu telah tamat, berganti pelangi
Pancaran matamu, pipi putihmu yang merona
Rambut panjangmu yang berkibar, memecah angin
Melihatmu saja membuat bersemangat,
Bagaikan lentera yang menyinari.
Tiada kata hampa
yang menghinggapi,
Jikalau engkau selalu menyertaiku.
Potongan hati yang kini terlengkapi,
Saat jiwamu menyatu denganku.
Engkau hidupkan harapan yang sempat meredup,
Peluk hangatmu menenangkanku dari kalut.
Hanyalah dirimu yang ada di hatiku,
Selalu .......
Hanya Dirimu
Terasa hangat,Saat peluk merayapi raga.
Angin berderai lembut, mengumbar sejuk.
Kulihat engkau senang, meniup mahkota bunga,
Yang kemudian berterbangan,
Merapalkan wujudnya bias.
Berjalan bersama, menyusuri rerumputan.
Tersenyum bersama, bahagia mendiami batin.
Terduduk dibawah rindangnya pepohonan,
Meneduhkan mesra yang membara,
Kala dahaga rindu terpuaskan.
Ciuman yang terumbar, terasa nyaman,
Berpagutan lidah, cumbu yang indah.
Kuresapi hangatnya dia, memberiku nikmat hidup,
Yang tiada terkira selama kuhirup udara.
Riang benar batin ini saat bergejolak,
Hingga tiada terasa matahari bergerak,
Menuju ufuk barat, menampakkan merahnya.
Kita hanya bisa menatapinya.
Sembari kepalamu kau sandarkan ke bahuku,
Manjanya dikau, memegang erat lenganku,
Tersenyum, hingga bibirmu seakan mengangkat pipimu,
Membentuk lesung manis, menambah guratan keindahan
Ya, musim semi kita,
Takkan terasa hampa, selalu ada pelangi.
Berwarna, meski hening menyaksikan kami,
Yang sedang terbalutkan cinta.
Musim Semi Kita
Hening pagi menyambutku,
Mengawali hari kelabuku di kota ini.
Tanpamu, kelam mulai menyelimuti.
Engkau tinggalkanku dalam perih menusuk jiwa,
Menyisakanku getir dan khianat,
Yang bersatu padu mengoyak bahagiaku.
Tak sadarkah dikau,
Dengan kepalsuan yang terucap dari bibirmu
Ketika kau mengatakan sumpah setia dahulu?
Tak ingatkah engkau membuaiku
Dengan kasih sayang yang sempat terlintas di lidahmu?
Kini, engkau hanya memberiku harapan kosong
Semuanya palsu!
Semu tiada guna!
Terasa sakit hati ini, tak tersembuhkan.
Hanya memberiku kecewa tak berujung.
Terpuruklah aku dalam putus asa,
Mesra yang kau umbar hanyalah topeng.
Terpedaya diriku dengan senyummu
Terlalu percaya terhadap janji manismu.
Hingga tak kusadari engkau menggores jiwaku
Dengan kelaknatan yang terencana.
Ingin kubangkit lagi dari rasa sakit ini,
Tapi aku tak lagi bisa.
Sayapku telah patah, hancur dimakan usia.
Rapuh raga dan jiwa, bersama harapan yang hampir sirna
Tertelan perlahan dalam lubang luka yang menganga.
Termenung, terpekur dalam diam.
Hari ini kuhanya bisa terduduk lesu.
Tak bergairah menyambut fajar.
Rasa pahit nan getir merasuki hati,
Layaknya secangkir kopi yang kuteguk
Terasa Sakit Hati Ini
Lembayung senja terasa senyap,
Hambar hati beribu terkecap.
Galau semakin memenuhi hasrat ini,
Membuatku tak lagi bergairah,
Ketika cinta hilang tiada kembali.
Kelabu merambah qalbuku.
Batin hancur berkeping
Tatkala engkau tinggalkanku
Dalam khianat yang membisu.
Sepi kini menjadi temanku,
Rindu tiada jemu menghampiri.
Meski telah tersakiti berulang kali,
Namun entah mengapa aku memaafkanmu,
Aku tak bisa berpaling darimu,
Kata cinta telah melekat kuat,
Hingga seakan bagaikan akar
Yang merambati raga.
"Adinda, mengapa takdir cinta engkau lepaskan?"
"Apakah harta membuatmu buta akan kehadiranku?"
Pertanyaan itu seolah terngiang-ngiang,
Menghantuiku.
Sumpah cinta yang dulu kita ucap,
Kini hanya tinggal pepesan kosong
Aku hanya bisa diam seribu bahasa,
Menatap kosong sembari mencoba
Tuk mencicipi tenangnya angin yang berderai lembut
Mencoba mendinginkan emosi yang tertahan.
Patah Hati
Teduhkan jiwa diantara malam,
Menghirup beribu aroma nafas kehidupan,
Memejamkan mata sejenak,
Memainkan kenangan dalam benak.
Bersenandung sepi,
Beriramakan sunyi dan hening,
Bertiup derai angin
Yang menghembuskan hampa
Redupnya cahaya bintang
Menemani hariku
Duduk termenung,
Menyendiri, disamping nisanmu
Meresapkan kebahagiaan dalam batin
Membuaikan cinta di dada
Saat masa lalu bergejolak
Masih teringat, lambaian tanganmu
Bersama senyummu yang terkembang,
Rambut panjangmu seakan terbang
Menyapa hari-hariku dulu
Kau setia menemaniku,
Kita selalu bersama,
Mengecap rasa vanili pada es krim yang kau suka,
Berjalan-jalan menikmati senja
Sembari engkau membawa boneka panda kesukaanmu
Ataupun membawamu setangkai bunga Lavender, favoritmu
Kini, tiada lagi engkau
Sudah habis dirimu termakan takdir,
Ya, ia yang memendekkan usiamu,
Hingga kau harus berada disini,
Merengkuk dalam dinginnya tanah.
Aku hanya bisa meratapimu,
Menahan rasa amarah,
Akibat kutak bisa mengubah takdirmu.
Kini, kuberdiam diri
Menunggu malam berganti pagi,
Melewatkan waktu yang kelam
Menemani jasadmu yang terkubur
Bersama Lavender dan boneka panda
Yang setia menemanimu dahulu
Aku Disini Menemanimu
Rasa ini sungguh membuncah dada,
Membara hangat pelukan
Berdebar jantung ini
Saat bersamamu.
Melihat langit sudah menjadi rutinitas,
Ketika bahagia, terpancar rona pelangi
Saat sedih, terbiaskan air mata langit
Yang membasahi raga.
Waktu malam, rembulan kita tatap,
Sembari bergandengan tangan,
berpeluk dan bercium mesra.
Tak pernah kumerasa sepi,
Saat bersamamu.
Rindu selalu terhapuskan
Oleh kehadiranmu.
Hari-hari berlangsung hidup
Mulai matahari terbit hingga senja menyambut
Engkau slalu membahagiakanku
Mengajakku menelusuri ribuan warna dalam hidupmu
Engkau jua yang meramaikanku
Hingga dapat kuusir hampa dan kesendirian.
Ah, kutak bisa hidup tanpamu
Aku ingin selalu berada disampingmu
Ingin jalan bersamamu sepanjang waktu
Menapaki jalan takdir yang terbentang
Denganmu, kuingin terus menelusurinya
Jalan yang tak berujung itu
Hingga suatu saat kematian menebus kita berdua
Dan kelak membawa jiwa yang telah bersatu ini
Menuju surga Firdaus
Kujalani Hidup Bersamamu
Malam semakin larut,
Aku hanya bisa menatap kosong langit,
Yang dipenuhi ribuan bintang redup.
Termenung cukup lama diriku,
Hingga sempat terjatuh dalam lamunan
Yang penuh akan kenangan manis
Yang takkan tertelan zaman.
Tak bisa terlupakan wajah manismu.
Senyummu selalu terkembang di setiap waktu
Engkau selalu membuatku bahagia,
Menyembuhkan luka hatiku yang terkadang muncul,
Ataupun menguraikan duka yang timbul.
Rambut pendekmu yang berponi,
Membuatku terbuai dalam cinta.
Pelukmu buatku terjatuh dalam candu asmara.
Mata beningmu, tak tampak dosa.
Seakan tatapanmu bisa meluluhkanku.
Kebersamaan yang dirajut dalam tali kasih,
Seolah memperkuat batin kita
Tuk menjalin cinta.
Ah, tapi itu hanya kenangan lampau.
Memori indah yang tertanam kuat dalam benakku.
Meski kini engkau tak lagi disampingku
Tapi aku tetap menunggumu
Dalam kesendirian dan kesunyian
Menanti hingga engkau kembali,
Meski akhir dunia datang lebih awal
Menantimu
Rembulan yang seolah bersedih
Meski ditemani ribuan bintang
Kurasakan angin berdesir pelan
Mencoba menerbangkan rambut hitamku
Kenangan itu,
Kembali merasuki raga
Mengalir mengikuti arus darahku
Yang bergejolak
Saat mengingatnya
Kenangan itu,
Tak bisa menahanku
Seluruh emosi bercampur aduk
Saat engkau kembali dalam benakku
Ketika engkau memelukku
Ketika dikau mencium mesra bibirku
Masih teringat senyummu
Saat kuberikan setangkai mawar
Dan sebongkah coklat kesukaanmu
Di kala malam bersinarkan cinta kita
Masih kurasakan hangat pelukanmu
Saat kau dekap aku
Berdiri bersama di jembatan
Yang menyeberangi sungai
Kenangan itu,
Takkan memudar
Meski kucoba menghapusnya
Takkan terkekang waktu
Meski kucoba mengurungnya
Kenangan itu,
Membuatku tersiksa
Menyakitkan saat teringat semuanya
Air mata selalu terjatuh
Di kala sepi berdentang
Saat kurasakan ruhmu memelukku,
Meski kutahu dirimu telah pergi
Meninggalkanku selamanya
Menuju surga yang indah
Namun, kisah cinta kita kan terukir abadi
Hingga aku pun bisa menyusulmu
Kini, kutinggalkan mawar merah
Yang sempat menghiasi kenangan kita
Pada batu nisan yang terukir namamu
Aku terdiam, terhanyut dalam cinta lampau
Kenangan yang Terukir Abadi
Sorry ye, akhir-akhir ini mimin sibuk. *lebih tepatnya kehabisan kuota. hari ini mimin aka posting singkat tentang konser JKT48 yang digelar di ITC, tepatnya di SIBEC Convention centre and Hall. Ya, konser itu digelar tanggal 30 Juni 2013. Konser yang diberi nama "Perkenalkan Nama Kami JKT48" dimulai dari pukul 17.00 WIB. Antriannya sudah mengular sejak pukul 15.00 loh pas sang admin baru datang.
Opening dimulai oleh cosplayer CSR0048, lalu dilanjutkan MC yg mengajak satu fans wotagei dance. *sempat malu-malu kucing loh fansnya menari wota*
Dilanjutkan JKT48 menyanyikan lagu-lagu
1. Heavy Rotation (yang menjadi lagu perjuangan pertama mereka dahulu)
2. Aitakatta/ Ingin Bertemu
3. Gomen ne summer/ Maafkan Summer (lagu favorit mimin)
lalu rehat dg penyambutan dari Melody cs kepada fans. Mereka semua ternyata sudah pintar berbahasa Jawa. Seperti Rena yang bisa mengucapkan "Matur nuwun", Ghaida dan Sendy dengan "Piye Kabare". Kemudian Nabilah yang membiacarakan bakso malang yang katanya dari Surabaya *eh buset jauh amat, delima yang telah mencoba rawon, setan, dll.
Setelahnya mereka menyanyikan lagu-lagu
4. Ponytail to Shushu
5. Kimi no koto ga suki dakara (Karena Kusuka Dirimu)
dan 6. Baby baby baby,
sempat ad sesi games member, dimana mereka tebak lagu. Cindy Gulla and Delima kalah. Mereka menerima hukuman dari member yakni masang muka jelek. *Kasian Cindy Gulla, masang muka jelek tapi malah tambah lolli.
lalu Mereka menampilkan single hits terbaru mereka saat ini, yakni
7. River. sempat mereka mengatakan perform berakhir. mereka menuju back stage. fans yang sedikit kecewa sempat meneriakkan encore "Rena- Chan" selama 3 menit. And, They're back with single-single seperti
8. Oogoe Diamond/ Teriakan Diamond,
9. Hikoukigumo
Setelah menyanyikan lagu Hikoukigoumo, Melody pun mempromosikan single terbaru mereka, yang akan dirilis tanggal 3 Juli 2013 di Jakarta, yang sekaligus menjadi kota terakhir konser mereka. Single terbaru mereka berjudul "Yuuhi mo Miteruika" atau dalam indonesianya "apakah kau melihat mentari senja"
dan terakhir mereka menyanikan lagu baru mereka, JKT Sanjou !
Berikut ini line up member yang datang kemarin
Oh ya, kemarin malam juga, mimin ikut Meet n Greetnya mereka loh. Tapi reviewnya mimin kasih besok ya.
Konser JKT48 di Surabaya
Kutunggu malam, menanti sosoknya.
Kunanti dia, ketika hampa menghampiri.
Kulihat bingkai keputusasaan menyongsongku,
Dalam kekosongan jiwa.
Hanya serpihan cinta berbekas
Yang bisa selamatkanku dari belitan hampa.
Kuingin dia menyaksikan kerapuhan jiwaku,
tatkala angin menahbiskan gundahku.
Kuminta ia hadir menemaniku
menyenandungkan serampai melodi rindu
Ah, tapi kurasakan sepi semakin merasukiku.
Aku tak tahan lagi. Ragaku melemah.
Memudar cinta yang sempat tertanam.
Tersiksa dalam pedih dan duka,
saat penantianmu tak berujung.
Saat kurasa cinta tak lagi menghampiri.
Kuhirup hening yang menyapa.
Sepi dan hampa menemani sendiriku dalam diam.
Kusandarkan ragaku pada rerumputan,
ketika rembulan menyongsong tetesan luka hati.
Menatap kosong langit,
mengisi waktuku,
sembari menunggu ia hadir kembali.
Hadir tuk menemaniku,
Mengisi cinta kembali,
Seperti sedia kala.
Kunanti dia, ketika hampa menghampiri.
Kulihat bingkai keputusasaan menyongsongku,
Dalam kekosongan jiwa.
Hanya serpihan cinta berbekas
Yang bisa selamatkanku dari belitan hampa.
Kuingin dia menyaksikan kerapuhan jiwaku,
tatkala angin menahbiskan gundahku.
Kuminta ia hadir menemaniku
menyenandungkan serampai melodi rindu
Ah, tapi kurasakan sepi semakin merasukiku.
Aku tak tahan lagi. Ragaku melemah.
Memudar cinta yang sempat tertanam.
Tersiksa dalam pedih dan duka,
saat penantianmu tak berujung.
Saat kurasa cinta tak lagi menghampiri.
Kuhirup hening yang menyapa.
Sepi dan hampa menemani sendiriku dalam diam.
Kusandarkan ragaku pada rerumputan,
ketika rembulan menyongsong tetesan luka hati.
Menatap kosong langit,
mengisi waktuku,
sembari menunggu ia hadir kembali.
Hadir tuk menemaniku,
Mengisi cinta kembali,
Seperti sedia kala.
Kuingin Cintamu Kembali
Segenggam memori
Bercampur manis dan pilu
Terekam semua, bercampur suka dan duka
Dikala waktu mengejarku
Saat takdir mencoba menghapusnya
Memori yang tersisa
Saat bersamamu dulu
Seakan kukais-kais
Terpecah-pecah mereka semua
Sebagian muncul, sisanya tenggelam
Aku membutuhkannya
Pecahan memori itu akan kusatukan
Aku harus melakukannya
Agar kubisa terus berdiri tegak
Menopang kehidupan yang tersisa
Agar kudapat menyongsong masa depan
Saat engkau tinggalkanku menuju surgawi
Ya, sebuah memori cinta
Yang dahulu sempat utuh
Saat engkau masih disisiku
Kini telah tercerai berai
Hampir saja menghilang tak berbekas
Namun kucoba meraihnya
Menyatukannya kembali
Memori Cinta
Ketika matahari tampak
kemerah-merahan,
Tatapanku seakan kosong.
Melamun dalam kesendirian,
Kemudian sepotong kenangan itu
kembali,
Kenangan lampau yang terasa
manis,
Sebelum kematian merenggut cinta
kita.
Dahulu, kita saling berpelukkan
mesra
Menggenggam tangan erat
Bersama menabur impian masa
depan
Mencecap bibir manisnya cinta
Kini, semua terasa dingin dan
hambar
Takdir memisahkan kita
Ya, sakitmu yang kau derita
Membuatmu harus meregang nyawa
Senyum terakhir yang tersungging
Saat matamu terpejam di
pembaringanmu
Hanya bisa melihat nisanmu
Terkubur jasadmu bersama memori
indah
Kuburanmu yang dihiasi
bunga-bunga kematian
Membuatku tepekur dalam diam.
Mengesap aroma kehidupan
Yang muncul dalam bayang senja
Tertinggal Kenangan Kita
Pertarungan di kastil Oxford
terus berlanjut. Pertempuran antara pasukan raja Iblis Satan melawan kekuatan
prajurit Cambridge, dimana aku yang memimpin, serta pasukan setengah malaikat
yang dipimpin Stella. Lautan darah terus membanjiri tanah yang kami pijaki,
dimana sang rembulan menyaksikan peperangan ini.
Pertempuran kini berlanjut
didalam kastil. Erangan para prajurit yang kehilangan nyawa terdengar di
berbagai penjuru. Mereka tertebas, luka menganga dan darah mengucur akibat
serangan Satan. Tapi aku tak seperti mereka, meski Satan langsung mencoba
menikamku dengan kecepatan serangannya. Aku selalu berhasil menangkis serangan
pedangnya.
“Benar-benar kekuatan
mengerikan” pikirku melihat aksi Satan menebas dan membunuh prajuritku.
Archiel, sang pengawal, dan Lucifer, Jendral pasukan Iblis pun juga sukses
menumpas seluruh pasukan Stella. Kini tinggallah Aku, Seraph (kakakku), Stella,
Sonia (adik Stella), dua pengawalku dan dua pengawal Stella yang harus
menghadapi kekuatan mengerikan Satan, Archiel, dan Lucifer.
“Hei kau manusia bedebah, berani
sekali kau memasuki kastilku yang megah dengan kaki busukmu !” Ujar Lucifer.
“Kekuatan manusia dan setengah
malaikat bergabung. Benar-benar menarik hingga hanya menyisakan kita bertiga.Kata
sang raja Iblis, Satan.
“Vicio, biarlah aku, adikku, dan
pengawalku yang akan menghadapi Satan dan pasukannya. Kau lebih baik tak usah
ikut dalam pertempuran ini.”
“Apa maksudmu, Stella? “
”Aku tak ingin kau terluka
ataupun tewas. Kekuatan mereka bertiga sangatlah kuat.”
“Aku rela mati, asalkan mereka
bisa kumatikan dengan tanganku sendiri.”
“Tapi aku tak rela kamu mati,
Vicio. Aku sangat mencintaimu.” Ujar
Stella. Lalu ia menggenggam tanganku, dan kemudian mencium bibirku.
“Sudah selesaikah kalian
berdebat, dan kemudian bermesraan? Aku bosan dengan kalian. Bos, Bagaimana
kalau kita serang duluan?” Tanya Archiel.
“Okelah kalau begitu.” Lalu
mereka bertiga melangkahkan serangannya dengan cepat.
“Kalian semua ! siapkan
kuda-kuda pertahanan kalian. Aku dan Stella akan menyerang Satan, Sonia dan
Seraph seranglah Lucifer. Sedang sisanya bunuhlah Archiel.” Lalu aku pun
bergerak maju duluan, menghadang Satan. Kedua pedang kami pun bertemu, pedang
perakku dengan pedang hitam-merah darah Satan, mengalunkan dentingannya. Kami
berdua saling menangkis serangannya. Saat aku lengah, Stella pun menutup celah
pertahananku yang kosong. Pedang Stella pun menghalangi Pedang Satan yang
hampir menembus dadaku.
“trims, Stella.”
“Janganlah kau terburu-buru
menyerang, Vicio.” Kemudian, kami berdua secara bergiliran menyerang Satan.
“Amuklah pedang Iblis : mare delle tenebre .” Ujar Satan
mengeluarkan jurus pedangnya
“Jurus Pedang : Spada della luce !” Dari pedang Stella
keluarlah cahaya terang. Kemilaunya menelan jurus Satan yang berisikan
kegelapan pekat.
“Arrgh ! Silau dan panas !” Ujar
Satan
“Sekarang waktunya Vicio !”
“Jurus pedang : Dio della morte di un migliaio di spade.”
Dari pedangku keluarlah seribu pedang lain, yang kemudian bergerak mengarah ke
Satan, dan menusuk tubuhnya.
“Uaarrrgh.” Satan pun roboh,
sekarat.
“Bos !”
“Satan !”
Archiel dan Lucifer pun
menghentikan pertempurannya. Mereka kemudian menggotong Satan, yang terkulai
lemas akibat jurusku.
“Ingatlah kalian manusia bedebah
dan setengah malaikat, kami kaum Iblis takkan pernah goyah untuk menguasai
dunia. Kelak kami akan menang !”
Lalu mereka menghilang dalam
sekejap, dengan jentikkan jari Archiel dan Lucifer.
“Kegelapan yang kau pegang
takkan bisa menguasai dunia selamanya. Hanya ada kebaikan yang bisa bertahan.”
Ujarku dalam hati sembari menggenggam tangan Stella.
FF - Kekalahan Raja Iblis
Kisah cintaku dengan Haruka
terhalangkan jalan yang berliku. Selalu saja ada pertentangan dari pihak dalam,
khususnya orang tuaku dan orang tuanya. Ya, mereka tak menyetujui hubungan kami
sejak awal, dikarenakan suku dan pekerjaanku. Haruka adalah keturunan berdarah
China-Jepang, sedangkan aku hanyalah kaum pribumi.
Kukembalikan semua kenangan saat awal
pertemuanku dulu. Aku bertemu dengannya saat aku masih menjalankan profesi
sebagai seorang pemain futsal professional di klub tenar, Jakarta FC. Sedangkan
ia sendiri masih menjadi seorang penyanyi di JKT48. Kami pun kemudian
mengakrabkan diri melalui jejaring social. Demi diriku, ia pun kemudian
meninggalkan karir di JKT48 dengan dalih ingin melanjutkan karir solonya. Kami
pun kemudian berpacaran setelah tiga bulan pendekatan.
Suatu hari, saat senja tiba, kami
berdua sedang berjalan-jalan di taman kota Fatahillah. Bercengkrama layaknya
muda-mudi kebanyakan.
“Haruka-chan, enak tidak Sashimi
tadi yang kubuat?”
“Hai.
Oishi desu. Bahkan orang tuaku tak
bisa memasak sepertimu” Ujar Haruka dengan logat jepangnya yang masih khas,
meski sudah lancar berbahasa Indonesia, memujiku. Kami berjalan-jalan sejenak.
Lalu, saatku menuju mobilku yang terparkir, kulihat dua orang bertubuh kekar merusak
mobilku. Sedang satu orang lainnya, dengan baju berjas dan membawa pedang
menyuruh kedua orang itu. Dan terlihat ada bapaknya Haruka di sisi orang itu.
“Hei kalian semua apa yang kau perbuat
dengan mobilku ?”
“Ayah ! mengapa kau merusak mobil Vicio-san?”
“Haruka ! aku dan ibumu sudah lama tak
merestui lelaki jalang ini ! Yang hanya hidup dari mengolah bola ! sudah
kubawakan jodohmu dari Jepang !”
“Tapi, ayah. Aku sangat mencintai
Vicio-san.”
“Aku tetap tak merestui hubunganmu
dengan Vicio !” Ayah Haruka pun membentak dan mencoba merebut paksa tangan
anaknya. Tapi Haruka menepisnya.
“anak durhaka kamu ! kuperkenalkan
orang itu. Dia adalah Jayushi. Seorang pengusaha kaya asal Jepang. Dia akan
kunikahkan denganmu.”
“Apa ?” Haruka dan aku pun terkaget mendengarnya.
“Watashi
wa Jayushi desu. Dozou Yoroshiku, Haruka-chan. Aku akan langsung melamarmu,
nona cantik” Ucap Jayushi
memperkenalkan dirinya dalam bahasa jepang. Wajahnya sangat buruk rupa, dengan
banyak keriput tampak jelas dari mukanya.
“Aku tak mau dengannya, Ayah. Aku
hanya mau dengan Vicio-san.”
“Kurang ajar kamu ! Hei dua orang
pengawal dan Jayushi, hajar bocah ingusan itu !”
Tanpa basa-basi, mereka bertiga
mengeroyokku. Pertarungan berlangsung tak seimbang, namun kumasih bisa memberi
luka pada pipi Jayushi dan beberapa bogem mentah kepada dua orang sisanya.
Namun mereka begitu kuat, berlangsung cepat hingga aku kehilangan banyak darah.
Aku pun roboh. Dengan sisa kesadaranku, kulihat Jayushi menghunuskan pedang
samurainya, mencoba menghabisiku. Namun, Haruka melindungiku yang terluka
parah. Sayang ia pun tertusuk perutnya.
“Haruka ! Anakku !”
“Aku tetap mencintai Vicio-san, ayah. Apapun kuperbuat demi
dirinya. Maafkan aku.”
Ayahnya benar-benar kehabisan kata dan
murka. Ia bersama Jayushi dan dua orang lainnya meninggalkanku dan Haruka,
begitu saja seperti sampah tiada guna.
“Haruka-chan, maafkanku. Aku tak bisa melindungimu.”
“Tidak apa Vicio-san. Kita akan mati bersama, dan hidup bahagia di surga sana.”
Setelah itu, Haruka pun menghembuskan
nafas terakhirnya. Disertai senyum terakhir yang tertinggal dari bibir
manisnya.
“Terima kasih, Haruka-chan telah mencintaiku tulus.”
Lalu aku pun roboh, tewas terkapar
bersimbah darah. Menyusul dirinya.
FF - Setia Hingga Akhir
Menjadi seorang pujangga
Yang tak kenal lelah membuat
beribu bait kehidupan
Yang tertuangkan oleh berlembar
puisi
Ya, seorang pujangga
Yang takkan tidur
Yang takkan pernah mencecapi
nikmat duniawi
Yang akan hidup bagaikan
binatang jalang
Demi tujuan hidupnya
Aku akan menyebarkan asam garam
yang kurasa
Tangan selalu menari bersama
tinta
Mencoba mengungkap nilai
kebenaran sesungguhnya
Tersiratkan dalam buku kehidupan
Membuka tirai yang menutup
jendela hidup
Membuka mata semua orang
Hingga dapat memikat hati mereka
Dan pada akhirnya dapat
menguasai dunia
Menjadi Seorang Pujangga
Ketika terlihat penghujung hidupku
Tatkala cinta ini tak terbalaskan olehmu
Ketika bayang ragamu mengabur
Aku hanya bisa tersenyum getir
Berpasrah menunggu kematian
Sembari mengubur rasa yang tersisa
Di lubang kematianku
Aku pun sendirian
Berteman rasa sepi
Hanya bisa kuratapi langit kosong
Sembari menghirup udara
Disaat lautan bergejolak
Mencoba menenggelamkan hati yang rapuh
Hanya bisa terucapkan kata "suka"
Dari bibir yang terkulum hampa
Hanya bisa mengeluarkan kata "cinta"
Dari lidah yang terbujur kaku
Hanya bisa mengejar ragamu
Dari kedua bola mataku
Yang telah kehilangan sinarmu
Hanya bisa mengagumimu dari jauh
Ketika mengetahui dirimu ada yang punya
Hanya bisa merasakan pesonamu dari kesunyian malam
Hanya bisa kutuliskan rasa ini kepadamu
Melalui guratan lembar puisi
Yang tertuang dari benak yang senang menyepi
Sebelum maut menjemputmu



.jpg)














